<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880</id><updated>2011-07-28T20:39:01.088-07:00</updated><title type='text'>Mimpi dan Harapan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-4964813018643962339</id><published>2009-07-31T07:20:00.001-07:00</published><updated>2009-07-31T07:26:06.838-07:00</updated><title type='text'>Pesan untuk Sahabat</title><content type='html'>Makna dari kehidupan sendiri sebenarnya layaknya sebuah drama. Kita hanya perlu memilih peran apa yang ingin kita sandang. Dan dalam menjalankan peran yang kita pilih itu, semua adegan adalah kewenangan kita, baik itu apa saja yang ada di dalamnya, bagaimana kita menjalankannya, atau siapa saja yang terlibat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meraih kesuksesan adalah sebuah pilihan. Merangkai mimpi menuju harapan yang cerah adalah hak untuk setiap orang. Semua insan boleh berharap, berangan menjadi dan melakukan yang terbaik. Semua itu pilihan. Jika memang ingin mendapatkan apa yang selama ini terpatri dalam benak kita itu sebagai cita, maka yang pertama kali harus kita lakukan adalah memilih jalan kesuksesan tersebut. Pilihan itu akan membentuk sebuah paradigma yang kembali akan membentuk attitude kita, karena paradigma itu akan menanamkan sebuah visi yang akan mengarahkan kita kepada apa yang menjadi pilihan hidup kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang pernah melakukan kesalahan. Semua orang pernah keluar dari jalur yang telah ia pilih sebagai jalan hidupnya. Namun cukuplah satu kali kesalahan itu menjadi pembelajaran yang bermakna, yang justru akan menjadikan kita sebagai manusia yang “tak akan pernah salah lagi”. Orang cerdas akan menjadikan kesalahan sebagai referensi sekaligus motivasi agar ia tak pernah jatuh pada lubang yang sama. Ia juga akan menjadikannya sebuah tantangan, jikalau ia mampu menepis segala keraguan dunia untuk mengatasi, atau bahkan menaklukkan kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat. Konsekuensi logisnya, ia akan mampu menjadi luar biasa justru dari kesalahan itu. Kesalahan adalah guru yang paling efektif untuk membina seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak fakta menunjukkan, terbentuknya seseorang menjadi manusia yang hebat adalah karena ia telah mengalami “penderitaan” terlebih dahulu. Penderitaan di sini harus dimaknai dengan lebih luas. Penderitaan di sini lebih menjurus kepada sikap mental yang gigih dan pekerja keras, selalu bersedia mengalami masalah karena justru dari sanalah kematangan yang sebenarnya akan didapatkan. Seringkali kita menemukan, anak yang berasal dari kalangan tidak mampu namun mampu melanjutkan studinya ke jenjang yang tinggi, akan lebih gigih daripada anak yang berasal dari keluarga mapan. Hal itu karena keprihatinan yang melandanya telah membentuk mentalnya menjadi seorang yang pantang menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada sumbing dapat datang dari mana saja, bahkan dari seorang yang sangat dekat dengan kita. Langkah paling bijak untuk menyikapinya adalah dengan menutup mata terhadap suara-suara tersebut, kecuali yang membuat kita menjadi lebih baik. Orang tak akan pernah lelah untuk mengomentari segala hal yang kita lakukan. Mereka hanya akan berhenti jika kita telah membuktikan kalau kita berhasil mencapai apa yang menjadi tujuan kita. Karena itu, memendam segala mimpi dalam hati adalah solusi terbaik. Dalam artian, mimpi yang telah kita rangkai tidak perlu kita umbar kepada orang lain secara berlebihan. Cukuplah kita tulis dalam selembar kertas, kita yakini dalam-dalam jika itu benar-benar akan menjadi riwayat hidup kita di kemudian hari, lalu kita lakukan apa yang seharusnya kita lakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Bermimpi besar bukanlah pantangan, namun justru kewajiban. Kejarlah mimpi itu. Jadilah pejuang, jangan jadi orang biasa saja. Jadilah sang pemain kehidupan, jangan mau selalu jadi penonton. Jadilah bukti itu sendiri, jangan menunggu bukti dari orang lain. Kita ada untuk berjuang dan berkarya agar dapat bermakna untuk negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti bisa!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-4964813018643962339?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/4964813018643962339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/07/pesan-untuk-sahabat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/4964813018643962339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/4964813018643962339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/07/pesan-untuk-sahabat.html' title='Pesan untuk Sahabat'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-3998255526047234500</id><published>2009-07-03T07:02:00.000-07:00</published><updated>2009-07-03T07:28:06.324-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Pencerahan Melalui Visualisasi Fiksi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/Sk4VaDBbVFI/AAAAAAAAAC4/J8OUfFSHrlI/s1600-h/KCB.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 77px; height: 118px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/Sk4VaDBbVFI/AAAAAAAAAC4/J8OUfFSHrlI/s400/KCB.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354240544222172242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mataku masih tak mampu berkedip. Ia masih memandang takjub akan indahnya kisah yang dituturkan oleh layar tersebut. Lika-liku kehidupan yang biasanya disajikan terlalu berlebihan dalam sinetron, sama sekali tak nampak dalam film itu. Justru sebaliknya, di sana ditunjukkan bagaimana realita kehidupan juga bisa dipaparkan dalam kemasan yang lebih nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kali kedua aku menonton film yang ide ceritanya bersumber dari novel sensasional karangan penulis kondang Habiburrahman El Shirazy. Tapi aku tetap saja tak mampu menahan haru ketika ada adegan yang menyedihkan, tak mampu menahan tawa kala ada adegan yang menggelikan, serta tak mampu menahan emosi saat ada adegan yang serius. Buatku, setiap bagian dalam film itu telah melekat erat dalam batinku. Apalagi kala aku mengingat statusku sebagai mahasiswa perantauan di kota orang –walaupun belum sampai negeri orang. Aku begitu merasa tidak berguna saat melihat perjuangan Azzam dan para sahabatnya berjuang hidup di Kairo tanpa meminta sepeser pun uang dari keluarga mereka di Indonesia. Bahkan Azzam berjuang di Mesir untuk memenuhi kebutuhan ibu dan adik-adiknya, berjuang keras menjadi penyuplai biaya hidup mereka, menggantikan tugas ayahnya sejak ia meninggal. Hingga akhirnya, adik-adik Azzam, Husna dan Lia dewasa dan sanggup mendapatkan penghasilan. Ini benar-benar memberiku pelajaran untuk tetap prihatin kala hidup sendiri demi tugas menuntut ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan dan sikap ikhlas untuk senantiasa menolong orang lain juga ditekankan di sana. Kita bisa lihat bagaimana Azzam mampu menjadi pemimpin yang disegani oleh kawan-kawannya sesama orang Indonesia di tempat tinggalnya di Mesir. Bagaimana ia juga senantiasa ikhlas membantu kesulitan orang lain, seperti saat membantu sahabatnya, Fadhil ketika masuk rumah sakit, juga saat menolong Anna Althafunnisa dan temannya saat mereka bertemu pertama kali di bus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menarik sekaligus inti cerita dari film tersebut tentu saja kisah cinta para tokoh film itu, terutama betapa rumitnya cinta Azzam dan Anna Althafunnisa, hingga akhirnya mereka berjodoh dan menikah (ini akan kita temui pada film kedua). Bagaimana kisah mereka sungguh membuat kita iri. Mereka benar-benar menjalin cinta karena dilandasi cinta kepada Allah. Seandainya kita bisa membangun rumah tangga kita seperti mereka membangun keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah seperti dalam film itu, sungguh alangkah indahnya dunia ini. Istri cantik, salihah, cerdas, bukan lagi impian selama kita tetap berpegang teguh pada ajaran agama kala kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk menghembuskan nafas. Konsekuensi logisnya, keluarga impian yang akan menuntun kita semua menuju surga akhirat –tak hanya dunia– akan selalu menjadi milik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku akan mampu seperti Abdullah Khaerul Azzam? Apakah aku akan mampu menjadi pahlawan keluarga? Apakah aku akan mampu menjadi orang yang selalu ikhlas menolong orang lain? Apakah aku akan mampu menjadi pemimpin teman-temanku? Apakah aku akan mendapatkan gadis sekelas Anna Althafunnisa untuk pada akhirnya menjadi bidadariku? Hanya takdir yang mampu menjawab. Tapi sesungguhnya tokoh Azzam kini semakin nyata dalam benakku, seolah ia ada dan mampu menjadi teladan untuk kita semua. Walaupun hanya fiktif, banyak sekali hikmah serta pelajaran yang dapat kita ambil di sana. Terutama untuk mahasiswa yang merantau di luar kampung halamannya, atau bahkan di luar tanah airnya. Semoga film ini menjadi pencerahan bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah film yang luar biasa, sebuah film yang memberikan inspirasi, sebuah film yang pasti memotivasi penontonnya untuk terus menjadi manusia yang tidak biasa dan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Cinta Bertasbih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semoga, “Anna Althafunnisa”-ku akan datang empat atau lima tahun lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin ya Robbal ‘alamin...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-3998255526047234500?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/3998255526047234500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/07/sebuah-pencerahan-melalui-visualisasi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/3998255526047234500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/3998255526047234500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/07/sebuah-pencerahan-melalui-visualisasi.html' title='Sebuah Pencerahan Melalui Visualisasi Fiksi'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/Sk4VaDBbVFI/AAAAAAAAAC4/J8OUfFSHrlI/s72-c/KCB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-566498079538320135</id><published>2009-06-10T06:19:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T06:27:23.880-07:00</updated><title type='text'>Dunia Mahasiswa, Sebuah Miniatur Kehidupan</title><content type='html'>Ketika seseorang sudah berada dalam sebuah frame berpikir yang pada akhirnya menciptakan sebuah mainset untuk pada akhirnya melahirkan sebuah visi di otaknya, umumnya hal itu akan berimplikasi pada perilakunya dalam kehidupan. Tak terkecuali seseorang yang telah bertekad untuk menegakkan dakwah Islam kepada lingkungan di sekitarnya. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan apa yang menjadi muara keberhasilan dari jalur-jalur pemikirannya dalam usaha-usaha syiarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu melihat terlalu jauh untuk menemukan bukti nyata dari apa yang dijabarkan di atas. Lingkup mahasiswa, yang merupakan kumpulan dari orang-orang terdidik yang heterogen, sudah cukup untuk merepresentasikan masing-masing karakter manusia pada umumnya. Begitu juga dalam urusannya dengan dakwah. Jika dalam kehidupan nyata kita menemukan ulama, maka di lingkungan kampus kita akan menemukan  orang-orang yang aktif dalam kegiatan syiar melalui media organisasi. Di fakultas teknik UNDIP sendiri, organisasi yang mewadahi kegiatan keislaman adalah FSMM. Di sanalah mahasiswa yang memiliki satu paradigma dalam kaitannya dengan penegakan syariat Islam berkumpul. Kebanyakan dari mereka memiliki pola pikir yang sama tentang agama, terutama mereka yang telah lama berkutat di sana dan menjadi tulang punggung organisasi tersebut, terutama mereka yang menjadi fungsionaris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja  sama sekali tak mengherankan jika orang-orang berada dalam satu kerangka berpikir ketika mereka berada pada sebuah tim yang sama, seperti BEM yang diisi oleh orang-orang yang bersifat kritis dan demokratis, FSMM yang diisi oleh orang-orang yang memiliki basic agama yang kuat, atau FST yang diisi oleh orang-orang progresif yang tertarik pada riset dan pengembangan. Namun adalah sebuah keunikan apabila kala orang-orang tersebut keluar dari tim tersebut, mereka seolah tetap memiliki kesamaan dalam menapaki waktu mereka, yang dapat kita lihat pada keseharian mereka. Kesamaan tersebut pada akhirnya akan melahirkan sebuah ikatan yang membuat mereka akan tetap melangkah bersama dalam mewujudkan kesamaan tujuan mereka. Dan inilah yang terlihat di FSMM. Dalam melakukan ikhtiar dakwah, mereka seolah tak pernah berada pada sebuah ikatan saja. Lihatlah, selain lewat FSMM, mereka sering sekali berkumpul untuk melakukan usaha-usaha dakwah itu melalui kegiatan tidak formal. Yang lebih mengesankan, mereka bahkan berada pada sebuah jalur politik yang sama, yang tentunya karena iklim politik tersebut dilandasi oleh apa yang mengikat mereka, yaitu Islam. Bukti nyatanya adalah kala mereka bersatu untuk mengangkat ikhwah mereka pada tatanan pemerintahan negeri ini di bawah bendera PKS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunikan lainnya adalah mereka seringkali menegakkan dakwah itu juga melalui jalur politik di kampus. Sudah bukan rahasia kalau perebutan posisi presiden BEM di fakultas teknik UNDIP benar-benar merupakan miniatur dari pemilihan presiden RI. Nuansa politis begitu kental dalam proses untuk menentukan mahasiswa nomor satu di fakultas teknik tersebut. Dan seperti PKS, kader-kader rohis yang biasanya dimotori oleh para aktivis di FSMM sudah pasti akan sekuat tenaga mengusung calon yang mereka anggap akan amanah dalam menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin, sekaligus menjadi mediator dakwah yang efektif di lingkungan kampus yang menjadi wilayah kekuasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia mahasiswa memang sanggup mewakili kehidupan yang nyata. Dan itulah yang menjadi keunikan dari dunia yang menyenangkan sekaligus menentukan dalam hidup kita selanjutnya itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-566498079538320135?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/566498079538320135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/06/dunia-mahasiswa-sebuah-miniatur.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/566498079538320135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/566498079538320135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/06/dunia-mahasiswa-sebuah-miniatur.html' title='Dunia Mahasiswa, Sebuah Miniatur Kehidupan'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-2098814081375419134</id><published>2009-05-13T01:53:00.001-07:00</published><updated>2009-05-13T01:53:54.204-07:00</updated><title type='text'>Di Antara Dua Pilihan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CDanang%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CDanang%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CDanang%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="1026"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku sama sekali bukan orang yang setuju dengan pacaran. Tapi, di sini aku hanya ingin memberikan sebuah analogi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebut saja Randy. Sudah sejak lama ia mengidamkan bisa bersanding dengan gadis pujaannya, Kirana. Tak hanya cantik, Kirana juga cerdas, populer, dan sangat berpengaruh di lingkungannya. Tak ada yang tak kenal Kirana di kampusnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tentu saja tak hanya Randy yang menginginkan Kirana. Tapi Randy tak patah arang untuk mendapatkan wanita idamannya itu. Berbagai usaha dilakukannya untuk memikat Kirana. Sampai pada saatnya, ia menyatakan cintanya untuk memastikan apakah Kirana juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Terkadang hidup memang tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada Randy. Kirana berkata “tidak” saat Randy memintanya untuk menjadi kekasihnya. Hati Randy hancur, namun itu tak berlangsung lama. Beberapa bulan setelah itu, Randy mendapat seorang kenalan wanita yang tak jauh berbeda dengan Kirana. Rasty, begitu nama wanita tersebut, tak perlu waktu lama untuk berkomitmen dengan Randy untuk menjadi sepasang kekasih. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sekian lama menjalin hubungan dengan Rasty, perlahan tapi pasti, bayangan Kirana menghilang dari otak Randy. Ia sangat menikmati jalinan kisahnya dengan Rasty. Namun, pada suatu waktu, samar-samar wajah Kirana terbentuk dalam benak Randy. Dan semakin lama bayangan itu semakin konkret. Bahkan, terbayang di otak Randy untuk kembali pada cinta lamanya itu, dalam artian untuk kembali mengejar Kirana dan meninggalkan Rasty.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sialnya, saat itu pula Rasty membawa Randy pada Kirana. Ternyata selama ini Rasty dan Kirana adalah sahabat lama. Rasty menemani Randy untuk menemaninya berkunjung ke rumah Kirana. Pertemuan itu pun berdampak sangat buruk untuk Randy. Randy semakin mantap untuk kembali memulai usahanya mendapatkan Kirana dan pergi meninggalkan Rasty.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mereka menyambutku dan teman-temanku. Senyum ramah khas seorang tuan rumah yang menyambut tamunya begitu jelas mereka tunjukkan. Jas berwarna kuning kecoklatan yang merupakan identitas sekaligus kebanggaan mereka melekat indah di tubuh mereka. Mereka lalu mempersilakan kami masuk ke rumah mereka, di kampus ternama di Indonesia itu. Universitas Gadjah Mada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Walaupun ini kunjungan keduaku di UGM, dan meski aku telah delapan bulan lebih menapaki kehidupan perkuliahan di universitas terbaik di Jawa Tengah, rasa takjubku kepada kampus nasional –yang bukan peninggalan Belanda– tertua di Indonesia itu tak pernah surut. Aura pendidikan di kampus itu begitu terasa. Bangunannya pun telah tertata rapi sehingga memiliki nilai estetika yang tinggi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dan saat itu pun tiba. Beberapa menit berjalan kaki dengan dipandu beberapa mahasiswa yang menyambut kami, kami dibawa ke tempat mereka mendapatkan berbagai macam materi perkuliahan. Plang bertuliskan “Fakultas Teknik UGM Jurusan Teknik Geodesi ” menyita perhatianku untuk sesaat, sambil perlahan membuka kenangan pahitku satu tahun yang lalu. Inilah tempat yang begitu kuinginkan saat aku masih berjuang untuk mendapatkan status kelulusan dari SMA. Tanggal 13 April 2008, aku ingat benar hari itu, dari pukul tujuh pagi hingga satu siang, aku terdiam di kursiku dengan diawasi sekitar enam orang pengawas demi berusaha merayu nasib untuk mengizinkanku kuliah di UGM lewat test UM UGM. Berbulan–bulan aku menyiapkan berbagai macam ilmu yang aku dapatkan di SMA agar aku maksimal di hari tersebut, demi sebuah kursi di Teknik Geodesi UGM. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Namun nasib memang tak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kampus Teknik Geodesi UGM ternyata hanya sebuah impian bagiku. Allah tidak –atau belum– mengizinkanku mendapatkan ilmu di universitas yang berposisi di Yogyakarta itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hanya saja, sedikit keberuntungan mampu membawaku ke jurusan yang sama di tempat lain. Universitas Diponegoro mempersilakan aku untuk memakai jas almamater kebanggaannya. Teknik Geodesi UNDIP rela mencantumkan nama “Danang Budi Susetyo” di daftar hadir kuliahnya, yang aku tanda tangani hampir setiap hari –kecuali waktu sesekali aku titip absen. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Namun beberapa bulan belakangan aku kembali memikirkan keinginan yang sama setahun yang lalu. Aku sendiri tak tahu kenapa, tapi keinginan itu makin lama makin kuat. Aku sendiri ingin menghilangkan perasaan ini, tapi tak sanggup. Puncaknya pada tanggal 9 Mei 2009, saat jurusanku mengadakan studi banding ke Teknik Geodesi UGM. Kemapanan yang sungguh luar biasa yang ditunjukkan oleh kampus itu seolah membuatku mantap untuk kembali berikhtiar demi masa depanku, dalam artian ikhtiar yang sama dengan yang aku lakukan setahun lalu: berusaha mendapatkan Kiranaku itu dan terpaksa meninggalkan Rasty. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku memang belum menentukan pilihanku. Karena ini sungguh masalah yang tidak main-main. Lagipula, jadwal test SNMPTN yang menjadi peluang terakhirku untuk memasuki gerbang pendidikan UGM berbenturan dengan ujian akhir di jurusanku. Aku hanya dapat berharap Allah memberikan petunjuk kepadaku secepatnya. Dan keputusan apakah aku akan berusaha lagi untuk memasuki UGM atau tidak, aku cuma bisa berdoa semoga itu yang terbaik. Yang jelas, kalau aku memang memilih untuki mengikuti seleksi mahasiswa baru demi UGM, aku mesti memilih slah satu antara bekerja keras untuk meraih hasil maksimal di test tersebut dengan mendapat IP cemerlang di semester duaku di UNDIP.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SggteePvFNI/AAAAAAAAACo/t55srMOHaek/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 227px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SggteePvFNI/AAAAAAAAACo/t55srMOHaek/s400/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334563760158741714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SggvTBosr4I/AAAAAAAAACw/oMndGD5M9f4/s1600-h/IMG_2949.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 228px; height: 168px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SggvTBosr4I/AAAAAAAAACw/oMndGD5M9f4/s400/IMG_2949.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334565762523508610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-2098814081375419134?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/2098814081375419134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/05/di-antara-dua-pilihan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/2098814081375419134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/2098814081375419134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/05/di-antara-dua-pilihan.html' title='Di Antara Dua Pilihan'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SggteePvFNI/AAAAAAAAACo/t55srMOHaek/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-4858626393496092234</id><published>2009-05-02T22:38:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T22:39:42.007-07:00</updated><title type='text'>Who are you? Pria atau Cowok?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;“Pria itu dewasa, punya pendirian, bertanggung jawab, punya visi misi, berkarisma, hidupnya nggak cuma untuk hari ini.... Beda sama cowok, yang .... (kebalikan dari kata-kata sebelumnya)”. Aku sebenarnya belum tahu iklan apa itu. Apakah film, sinetron, atau hanya maskot produk tertentu. Tapi sesungguhnya apa yang dikatakan satu laki-laki dan dua wanita dalam iklan tersebut membuatku tertarik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku telah merasakan dunia cowok dan dunia pria. Perbedaan kualifikasi antara dua sosok itu begitu terasa di usia-usia sepertiku, di masa-masa transisi dari SMA menjadi mahasiswa. Dunia SMA, masa di mana menurut sebagian besar orang adalah saat-saat terindah dalam hidup, penuh dengan keceriaan dan kesenangan, adalah sangat identik dengan cowok. Hidup para anak SMA kebanyakan belum memiliki orientasi yang pasti dan masih mencari jati diri. Mereka akan melakukan apa saja yang mereka suka dan mengikuti apa saja yang menurut mereka sesuai dengan kepribadian dan karakter mereka. Visi ke depan pun hanya sebatas cita-cita yang masih abu-abu dan belum terfokus pada satu tujuan, sehingga realisasinya pun belum jelas. Sungguh berbeda dengan karakter pria yang biasanya mulai muncul di kala kita terlibat interaksi sebagai mahasiswa, terutama di kala kita tergabung dalam sebuah organisasi. Di masa inilah jiwa SMA kita hilang dan digantikan oleh pemikiran seorang pemuda yang memiliki idealisme dan eksistensi yang kuat. Visi dan misinya mulai tertata dan terancang dengan rapi. Paradigma dan cara pandangnya berubah drastis dan akan terus manatap jauh ke depan. Mental yang sebelumnya manja akan digantikan oleh mental juara yang pantang menyerah dan terus berpikir positif. Inilah sosok seorang pria. Paling tidak inilah cerminan para pria yang aku temui di kampusku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Itu jika kita melihat dari sudut pandang pria. Jika melihat dari sudut pandang wanita, perubahan yang akan aku bahas di sini bukanlah perubahan wanita itu sendiri, melainkan cara wanita melihat pria –dan juga cowok. Cewek-cewek SMA akan melihat cowok hanya sebatas apakah cowok itu tampan, keren, atau populer. Bandingkan dengan wanita dewasa yang tentu akan melihat lebih dari itu. Karisma bagi mereka akan sangat menentukan apakah pria itu menarik atau tidak. Kepemimpinan bagi mereka merupakan pertimbangan yang sangat penting apakah pria itu pantas dicintai atau tidak. Dan yang tak kalah penting, kemapanan merupakan unsur yang tak akan dilupakan wanita dalam mempertimbangkan sosok pria yang layak untuk mereka. Sosok pria lah yang diharapkan para wanita, bukan cowok.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Karena itulah, untuk kita para cowok, kita harus secepatnya berubah. Tanamkan satu kepribadian yang nyata dalam tindak tanduk kita. Tancapkan satu ideologi yang akan mendasari visi kita ke depan. Dan pikirkanlah sebuah tujuan besar yang akan menjadi patokan kita dalam melangkah, sehingga kita tak akan pernah seperti ayam kehilangan induknya yang tak mempunyai arah. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-4858626393496092234?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/4858626393496092234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/05/who-are-you-pria-atau-cowok.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/4858626393496092234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/4858626393496092234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/05/who-are-you-pria-atau-cowok.html' title='Who are you? Pria atau Cowok?'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-6488169838278520131</id><published>2009-04-26T19:16:00.000-07:00</published><updated>2009-04-30T04:05:13.722-07:00</updated><title type='text'>Ujian Nasional, Ajang Seleksi atau Pembunuh Karakter Pendidikan?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Tanggal 20 April kemarin, para siswa kelas 3 SMA menentukan nasibnya dalam Ujian Nasional. Tak sedikit yang panik dalam menatap ujian yang ditentukan tak hanya oleh bekal akademis, namun juga faktor keberuntungan itu. Aku dapat memahami beban mereka, karena aku juga merasakannya benar tahun lalu. Persiapan yang salah membuatku begitu stres di bulan-bulan seperti ini pada tahun 2008. Tapi Alhamdulillah, karena izin-Nya dan juga keberuntungan yang aku katakan tadi, aku berhasil lolos dari kekhawatiran yang sungguh mengerikan dari konsekuensi negatif yang bisa didapatkan, yaitu tidak lulus SMA.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sekarang aku memang telah menapaki babak baru di bangku kuliah. Aku memang telah menanggalkan seragam putih abu-abuku dan telah berubah status dari siswa menjadi mahasiswa, dari remaja menjadi pemuda, dari beban orang tua –walaupun aku tahu mereka tak akan terbebani olehku– menjadi pemberi harapan untuk keluarga. Namun sungguh, mendekati waktu Ujian Nasional tahun ini, aku masih saja merasa janggal. Terutama saat aku melihat bagaimana takutnya para siswa dalam menghadapi Ujian Nasional ini lewat televisi, juga saat aku merasakan kekhawatiran adik kelasku menjelang ujian. Seolah-olah aku akan mengulanginya lagi tahun ini.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sekarang aku ingin memberikan sebuah komparasi. Pada hari yang sama, aku juga melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS). Namun perasaan yang melingkupiku malam harinya sungguh berbeda dengan apa yang para siswa kelas 3 rasakan. Terang saja, apa yang akan aku hadapi bukanlah sebuah penentuan nasib yang akan 100% memberikan keputusan akan kelangsungan hidupku. Nilai UTS hanya beberapa persen dari akumulasi nilai total untuk satu semester. Terlebih, yang aku perlukan dalam menghadapi ujian tersebut hanya kesiapan ilmu yang telah aku dapatkan. Sangat kontras dengan apa yang dipikirkan oleh siswa kelas 3. Ujian Nasional benar-benar menentukan hidup mereka selanjutnya. Mereka tak hanya membutuhkan kesiapan dalam hal akademis, namun juga kesiapan teknis (seperti pengisian lembar jawaban yang tidak boleh salah) dan kesiapan mental yang benar-benar matang. Jika gagal, waktu sekitar 3 tahun yang mereka habiskan di SMA sungguh sia-sia. Ijazah kelulusan yang merupakan syarat mutlak masuk perguruan tinggi hanyalah impian belaka. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dari dulu aku heran, sesungguhnya apa yang menjadi pertimbangan pemerintah dalam melaksanakan kebijakan Ujian Nasional? Pemikiran apa yang melandasi mereka dalam mengonsep Ujian Nasional sehingga berpengaruh mutlak kepada kelulusan siswa? Sebagai seorang yang telah mengenyam pendidikan hingga jenjang yang begitu tinggi, tak seharusnya mereka mempunyai pemikiran dangkal seperti itu. Berbagai data dari tahun ke tahun menunjukkan parahnya angka ketidaklulusan. Namun, konsep Ujian&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;Nasional tetap saja tak berubah. Padahal, pemerataan fasilitas pendidikan di tiap daerah masih sangat jauh dari kata berhasil.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Tentu sangat tak bijak jika mengkritisi sesuatu tanpa menawarkan solusi. Menurutku, ada baiknya metode untuk menentukan kelulusan siswa mengadopsi sistem penilaian di perguruan tinggi, yang membagi prosentase antara kuis (seperti ulangan harian di SMA), praktikum, Ujian Tengah Semeter (UTS), dan Ujian Akhir Semester (UAS). UAS selalu memegang pengaruh terbesar dari keseluruhan penilaian terhadap mahasiswa, bisa mencapai 50% dari nilai total, namun tidak sepenuhnya. Mungkin ada baiknya pengaruh Ujian Nasional terhadap kelulusan siswa seperti pengaruh UAS terhadap nilai mahasiswa. Jadi, guru pun berhak menentukan kelulusan para siswanya lewat ujian praktek dan ujian sekolah, karena sesungguhnya mereka yang lebih mengetahui kemampuan siswanya. Negara hanya bisa memberikan sebagian dari keseluruhan hasil akhir siswa, bukan secara menyeluruh.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Kini aku hanya bisa berharap pemerintah bisa menggunakan otaknya dalam melaksanakan kebijakan. Jika memang mereka masih terlalu bodoh dalam memahami esensi pendidikan itu sendiri, lebih baik aku nekat maju untuk diterjunkan di kursi DPR beberapa tahun lagi demi merealisasikan niatku itu (ini hanyalah sebuah majas hiperbola, aku sama sekali tak berminat berkutat di bidang politik). Aku begitu memahami kekhawatiran yang dialami oleh para siswa kelas 3 sekarang ini. Bahkan, aku yang sebisa mungkin menekankan kejujuran dalam ujian, memaklumi ketika ada siswa yang terang-terangan menyontek saat Ujian Nasional. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Aku sangat berharap &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Pemilu Presiden dalam waktu dekat ini memberikan angin perubahan di segala aspek yang menentukan nasib bangsa ini, termasuk dalam bidang pendidikan. Semoga...&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-6488169838278520131?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/6488169838278520131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/04/ujian-nasional-ajang-seleksi-atau.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/6488169838278520131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/6488169838278520131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/04/ujian-nasional-ajang-seleksi-atau.html' title='Ujian Nasional, Ajang Seleksi atau Pembunuh Karakter Pendidikan?'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-3611199336008833213</id><published>2009-04-13T05:26:00.000-07:00</published><updated>2009-04-13T06:49:45.604-07:00</updated><title type='text'>Diantara Dua Pilihan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dulu aku sangat heran dengan pemikiran seorang Cristiano Ronaldo. Sebagai seorang pemain sepak bola apa yang tak ia dapatkan di Manchester United? Ia berada di sebuah klub terbaik di Eropa, bahkan dunia. Gelar pemain terbaik dan top skorer di berbagai ajang juga ia dapatkan saat berkostum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Red Devils&lt;/span&gt;. Ia pun telah mendapat tempat di hati Sir Alex Ferguson, sesuatu yang bahkan tak didapatkan David Beckham dan Ruud Van Nistelrooy. Ronaldo juga sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan. Sekarang apa lagi yang ia inginkan dari klub yang bermarkas di Old Traffod itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang membuatku sangat heran. Sebagai calon legenda United, aku sempat tidak mengerti akan apa yang ada di pikiran Ronaldo. Bagaimana mungkin ia begitu berhasrat untuk pindah ke Real Madrid sementara yang ia dapat di United melebihi prestasi pesepak bola kebanyakan? Apalagi usianya baru menginjak 23 tahun. Dan dari segi nama besar, MU tak kalah mentereng dari Madrid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita dan tantangan. Itulah yang menjadi alasan Ronaldo begitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngebet &lt;/span&gt;ingin hijrah ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Los Merengues&lt;/span&gt;. Selain itu, jarak yang relatif lebih dekat antara Spanyol dan Portugal ketimbang dari Inggris ke Portugal menjadi pertimbangan lain CR7. Sejak belia, ia memang bermimpi bisa berkostum El Real. Sementara jiwa mudanya tentu mendominasi, sehingga muncul keinginan untuk merajai tempat lain di luar Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti juga heran, bagaimana pemikiran dangkal dan sederhana seperti itu bisa muncul dalam benaknya? Akupun sempat berpikir demikian. Hanya saja, aku kini semakin menyadari kedewasaanku. Dulu aku lebih sering mengomentari sesuatu tanpa aku pikir terlebih dahulu bagaimana posisi objek yang aku kritisi. Namun setelah menginjak usia remaja menjelang dewasa, dengan pengalaman-pengalaman baruku di bangku kuliah, aku lebih matang dalam melihat posisi seseorang. Termasuk dalam kasus Ronaldo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hatiku bimbang. Tampaknya apa yang dialami oleh Ronaldo benar-benar menimpa diriku. Aku mulai ragu dengan posisiku sekarang. Di satu sisi, aku telah mendapat segalanya di tempatku bernaung sekarang. Tapi rasa penasaran begitu menghantuiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa bulan terakhir, hidupku berubah total. Tempaan hidup mandiri serta gaya hidup baru sebagai seorang mahasiswa telah membantuku menemukan jati diriku. Aku juga menemukan sosok-sosok saudara seperjuangan -yang aku pikir telah hilang setelah aku berpisah dengan teman-teman sekelasku di SMA- dalam raga kawan-kawanku di jurusan, yang sungguh menyayangiku dan juga sangat aku sayangi. Aku juga telah mendapatkan ilmu yang benar-benar aku cintai, sehingga membantuku dalam menggapai IP yang sungguh membuatku sangat puas dan begitu membanggakan kedua orang tuaku. Perubahan paling signifikan tentu saja perubahan kemampuanku dalam berorganisasi dan bersosialisasi. BEM fakultas dan Himpunan Mahasiswa jurusan sungguh menuntunku untuk mengembangkan kemampuanku dalam dua hal tersebut. Aku juga mendapatkan posisi yang begitu aku impi-impikan, yaitu pimpinan redaksi majalah di fakultas Teknik. Dan yang tak kalah penting, aku tinggal di sebuah kost di mana kekeluargaan di sana begitu erat, yang terbingkai indah dalam kebersamaan Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tentu heran apa yang membuatku begitu bimbang? Nyatanya, aku benar-benar berada di posisi Cristiano Ronaldo (walaupun gaya bermainku lebih mirip Fernando Torres. Hehehe...). Rasa penasaran akan cita-cita yang tak terwujud mulai menggelayuti pikiranku. Jiwa muda yang menginginkan tantangan juga mulai mendominasi batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurusan yang aku geluti sekarang memang yang aku cita-citakan, namun tidak dengan kampusnya. Sesungguhnya, aku sangat berharap bisa berada di jurusan yang sama di sebuah universitas ternama di Yogyakarta. Aku sudah mencobanya tahun lalu. Hanya saja, takdir belum membawaku ke sana. Memang, dari segi nama besar, kampusku memang tak kalah dari kampus impianku. Tapi aku terlanjur berharap bisa berada di sana. Aku bahkan sempat berpikir untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi untuk mendapatkan kursi di sana. Hanya saja, aku masih harus berpikir seribu kali untuk melakukannya. Selain memiliki banyak tugas serta amanah di tempatku sekarang, aku belum tentu mendapatkan semua itu di Yogyakarta. Selain itu, jika harus memikirkan seleksi masuk perguruan tinggi, konsentrasi akademisku akan terpecah. Bisa jadi, IP-ku semester ini turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, jiwa mudaku seakan menantangku untuk membuktikan apakah aku mampu "menaklukkan" Yogyakarta seperti aku menaklukkan Semarang. Dan aku memang ingin membuktikannya. Jika Anda berpikir ini gila, memang sesungguhnya demikian. Jika Anda berpikir aku tidak waras karena mempertaruhkan masa depan hanya karena pembuktian sebuah tantangan, Anda juga tidak salah. Spekulasi Ronaldo masih bisa diantisipasi, karena pemain bola tidak terlalu terpaku pada waktu. Jikapun ia jadi pindah ke Madrid namun pada akhirnya gagal di sana, ia tinggal mencari klub baru. Namun jika aku gagal saat pindah ke Yogyakarta, aku telah menyia-nyiakan tahun yang sesungguhnya sangat berharga, karena mahasiswa begitu terpatok pada waktu dan usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lainnya adalah karena aku begitu menyukai kota Yogyakarta daripada Semarang. Kota itu begitu aku idam-idamkan semenjak aku tinggal sementara di sana saat aku mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sudahlah. Yang ada di pikiranku kini hanya mendapatkan kembali kecemerlangan  akademis semester lalu. Aku tak ingin memikirkan Yogyakarta, walaupun aku begitu berhasrat ke sana, sampai-sampai pikiranku seringkali membayangkan aku memakai jas almamater universitas tersebut. Aku masih sangat mencintai kota baruku ini, karena di sinilah aku mendapat semuanya. Untuk ke depannya, biarkanlah takdir yang menjawab. Saat ini, aku hanya ingin menjadi seorang hamba Allah yang bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-3611199336008833213?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/3611199336008833213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/04/diantara-dua-pilihan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/3611199336008833213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/3611199336008833213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/04/diantara-dua-pilihan.html' title='Diantara Dua Pilihan'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-8006609774888965359</id><published>2009-03-28T11:06:00.000-07:00</published><updated>2009-04-17T20:16:31.943-07:00</updated><title type='text'>Untuk Dia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menanti ketidakpastian adalah sebuah penantian yang takkan berujung. Dan apalah arti penantian itu jika hasilnya memang berpihak kepada kita? Takkan ada artinya. Kita hanya akan merasakan kebahagiaan. Paling tidak itulah yang menjadi harapan orang-orang yang menunggu, termasuk aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menjadi berlian di antara kerikil, menjadi emas di antara tembaga, atau menjadi bunga di antara rerumputan. Aku ingin menjadi yang pertama untukmu. Tapi yang perlu kau tahu, aku tak mengharapkan kau selalu menganggapku yang pertama, apalagi yang utama. Aku hanya ingin berada di belakangmu saat kau berada dalam kesulitan, berada di depanmu saat kau dalam bahaya, dan berada di sampingmu saat kau dalam kesedihan. Cintaku sederhana, dan itulah yang kuinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derap langkahku selalu siap kala kau membutuhkan, hembusan nafasku selalu ada selama kau memerlukan, dan tetesan keringatku tak akan pernah berhenti selama itu untuk membantumu. Mungkin kau memang tak menganggapku hebat, apalagi sempurna. Mungkin pula aku bukan sosok yang menurutmu luar biasa seperti yang ada di ujung barat sana. Tapi inilah aku, sesosok pemuda penuh semangat yang mengabdikan hidupnya demi keluarganya. Aku takkan pernah berubah untuk siapapun dan untuk apapun, kecuali itu mengubahku menjadi semakin lebih baik dan itu sanggup membahagiakan orang yang aku sayangi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah sudah menggariskan hidupku dalam jalan takdir yang takkan pernah bisa ditebak. Dan aku tak akan bersusah payah melakukan hal-hal tak berguna seperti yang mereka lakukan kepadamu. Karena ini memang bukan waktunya. Namun jika saat itu telah tiba, itu adalah perkara lain. Untuk masalah ini, biarlah takdir berduet dengan waktu untuk menjawab kegelisahanku yang sebenarnya tidak penting ini. Sekarang aku hanya ingin berubah untuk diriku sendiri, yang pada akhirnya perubahan itu aku implementasikan dalam sebuah pengabdian nyata untuk masyarakat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan berarti aku akan meninggalkan perasaanku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hatiku terlanjur tertambat padamu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: tulisan ini hanya latihan, bukan fakta, jadi nggak usah mikir macem2. ok?&lt;br /&gt;                                                                                                                                                       &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-8006609774888965359?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/8006609774888965359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/03/untuk-dia.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/8006609774888965359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/8006609774888965359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/03/untuk-dia.html' title='Untuk Dia'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-6018511113673455893</id><published>2009-03-18T15:22:00.000-07:00</published><updated>2009-03-28T11:28:52.666-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Pikiran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rangkaian skenario dalam hidup sebenarnya adalah rencana yang merupakan hasil produksi kekuatan pikiran kita. Apa yang terjadi saat ini adalah hasil pemikiran kita di masa lalu. Dan apa yang kita pikirkan sekarang adalah rencana keadaan kita di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda menyangkal statement di atas dengan alasan hidup jauh lebih rumit dari sekedar hasil pemikiran seseorang. Namun jika fakta tersebut dikorelasikan dengan kenyataan-kenyataan yang bahkan bisa dianggap tidak mungkin yang telah menimpa para manusia luar biasa di masa lalu, pernyataan tersebut biasa dijadikan rujukan. Karena dengan kekuatan pikiran itulah Albert Einstein, Abraham Lincoln, Thomas Alva Edison, dan Wilma Rudolph menghubungkan garis mimpi dalam angan-angan mereka dengan ujung-ujung kenyataan dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya katakan di sini bukanlah kekuatan pikiran seperti yang dijabarkan dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Secret&lt;/span&gt;, di mana ia dengan mudahnya mengubah dunia ini dalam hitungan kejapan mata. Namun ini lebih seperti kekuatan pikiran di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berpikir dan Berjiwa Besar&lt;/span&gt; karya David J. Schwartz. Pikiran adalah kerangka dasar dari keadaan hidup kita secara objektif. Dalam artian, pola pikir positif atau negatif itulah yang akan menjadi dasar bagi arah hidup kita selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan hanya dapat kita raih ketika kita membunuh semua stigma negatif yang bersemayam dalam otak kita. Pikiran itu laksana langkah awal kita dalam menempuh suatu perjalanan demi mencapai sebuah tujuan. Kala ia berpikir positif terhadap suatu hal, maka ia akan membawa kita pada semua hal yang baik. termasuk raihan mimpi dan harapan kita. Sebaliknya, jika ia terus membentuk bayangan-bayangan negatif, maka tak akan ada yang menghampiri kita selain rangkaian kegagalan yang akan membawa kita pada kenistaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan seandainya keempat tokoh yang saya sebutkan di atas terbawa pada pikiran-pikiran negatif yang diciptakan oleh keadaan yang tidak berpihak pada mereka. Lincoln mungkin akan takluk pada cercaan-cercaan yang mengatakan yang mengatakan ia adalah pemalas dan takkan kita kenal sebagai Presiden Amerika Serikat, seseorang yang berpengaruh secara global. Einstein juga tak akan dikenal sebagai seorang jenius yang luar biasa jika ia menanggapi perkataan orang-orang bahwa ia terbelakang di sekolah.  Thomas Alva Edison pasti tak akan mendapatkan "statusnya" sebagai penemu bola lampu listrik jika ia tak teguh pada pendiriannya sebagai anak yang selalu ingin tahu meski guru-guru di sekolahnya menganggapnya bodoh. Atau mungkin contoh yang luar biasa lagi. Wilma Rudolph tak akan mempu menjadi juara atletik tingkat internasional jika tak mampu menguatkan dirinya sendiri dengan kekuatan pikiran positif saat dokter mengatakan kepadanya ia tak dapat berjalan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya sebagian contoh dari orang-orang yang membangun hidup mereka dengan kekuatan pikiran positif. Hidup ini adalah tabir misteri yang mesti kita kuak. Dan untuk menyingkap tabir tersebut, pikiran adalah jalan pertama yang harus dilalui, sekaligus penentuan arah yang menjadi tujuan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan juga bukan dalih untuk mengelak dari kenyataan. Kalaupun kekuatan pikiran positif itu belum membawa kita pada suatu tempat bernama "keberhasilan", itu bukanlah alasan untuk berhenti berharap. Itu hanyalah secuil dari skenario "film" diri kita yang kita ciptakan sendiri dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ending &lt;/span&gt;film berupa kebahagiaan si tokoh utama. Dan tokoh utama itu adalah Anda. Setidaknya, itulah prinsip yang dianut oleh Thomas Alva Edison yang dengan gigih berkutat dengan percobaan bola lampunya demi menciptakan sebuah perubahan besar dalam peradaban, meskipun pada awalnya ia sering sekali gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hendaknya kita menetapkan mimpi yang akan menjadi tujuan hidup kita. Dan jangan pernah takut bermimpi untuk hal yang besar, karena kita bermimpi tinggi tapi kita belum berhasil meraihnya itu lebih baik daripada bermimpi terlalu rendah tapi kita berhasil mendapatkannya. Dan dalam meraih mimpi tersebut, berpikir positif dan besar adalah hal yang tak dapat ditawar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jenius adalah 1 persen inspirasi dan 99 persen adalah keringat" -Thomas Alva Edison (1847-1931)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-6018511113673455893?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/6018511113673455893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/03/sebuah-pikiran.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/6018511113673455893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/6018511113673455893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/03/sebuah-pikiran.html' title='Sebuah Pikiran'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-174795173744129749</id><published>2009-02-10T17:51:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T02:26:18.513-08:00</updated><title type='text'>Dua Jalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZI3_E6oMmI/AAAAAAAAACg/8s9SzLUjDeU/s1600-h/love.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 341px; height: 319px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZI3_E6oMmI/AAAAAAAAACg/8s9SzLUjDeU/s400/love.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301361268159427170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rangkaian makna dari setiap interpretasi jiwa terhadap kehidupan membuatku memahami arah yang selama ini aku cari. Dan pengharapan akan sesuatu yang selama ini dianggap tabu perlahan mulai memancar dalam kalbuku yang sekian lama tertipu oleh fatamorgana penyesatan duniawi, di mana selama ini aku terombang-ambing diantara dua persimpangan yang masing-masing mengantarkanku pada alam yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang aku dapat ini hanya bisa kuraih jika aku telah memohon kepada sang waktu untuk memberikan penjelasan antara dua persimpangan itu. Aku tak akan sanggup memaksanya untuk membuatku mengerti akan dua arah yang sama sekali berbeda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lajur utama kita akan menemukan keindahan yang sama. Namun aku tahu, pada pertengahan dan ujung jalan tersebut keadaannya akan sangat lain. Di ujung jalan pertama kita akan menemukan kebahagiaan sejati yang tak terbayar oleh harta sekalipun. Sedangkan pada ujung jalan satunya kita akan menemukan sebuah jurang terjal yang akan membunuh kita setelah sebelumnya kita menemukan hutan belantara gersang yang diselimuti kegelapan di pertengahan jalan yang kita lalui di jalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah kubilang, waktulah yang akan memberikan referensi kepada kita akan dua jalan itu. Namun ia tak akan begitu saja menjelaskan secara kasar dan gamblang apa saja yang ada di sana. Ia akan membutuhkan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahun yang lebih lama untuk memasuki setiap persendian kita, merambah melewati setiap batang tulang kita untuk menuju sesuatu yang menggerakkan tubuh kita setiap saat. Bukan otak yang ia tuju. Bukan pula mata. Ia akan menuju hati kita, membuka pintunya sedikit demi sedikit, membisikkan kata-kata penentraman untuk kita mengenai pemaknaan hidup ini, untuk akhirnya memberikan pemahaman secara mendalam kepada sang pemilik hati tersebut untuk dapat meresapi dua jalan yang akan ia pilih demi masa depannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika hati itu tak jua terbuka, bukan tak mungkin sang waktu kehilangan kesabarannya, lalu dalam sekejap berubah menjadi makhluk yang akan menggerogoti hati itu sedikit demi sedikit, hingga habis seluruhnya. Sehingga ia justru semakin membutakan sang pemilik hati itu untuk memilih jalan yang salah, dan akan membawanya ke jurang kematian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang waktu itu selalu dimiliki oleh setiap orang. Tentukan pilihan yang akan kau ambil kawan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jalan itu adalah cinta sejati dan "cinta" semu, atau secara kasar dapat disebut nafsu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku akan selalu menanti "dirinya" di jalan pertama....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-174795173744129749?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/174795173744129749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/dua-jalan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/174795173744129749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/174795173744129749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/dua-jalan.html' title='Dua Jalan'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZI3_E6oMmI/AAAAAAAAACg/8s9SzLUjDeU/s72-c/love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-6381935447242148728</id><published>2009-02-09T04:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T04:28:57.953-08:00</updated><title type='text'>Kekerasan di Teknik? No Way!!!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZAgkUPJRjI/AAAAAAAAACQ/Dayx3FH3hYo/s1600-h/pilar%25201.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300772569694684722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 355px; CURSOR: hand; HEIGHT: 336px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZAgkUPJRjI/AAAAAAAAACQ/Dayx3FH3hYo/s400/pilar%25201.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku hanya sebatas ingin melihat berita itu. Namun perhatianku langsung tersita ke sana begitu pembaca berita itu menyebutkan bahwa tragedi itu terjadi di Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung. Betapa tidak, “pembunuhan” itu terjadi di jurusan yang sama denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya aku ingatkan kepadamu kawan, tulisanku ini hanya opini, bukan laporan investigasi dari kepolisian atau catatan berita dari seorang wartawan &lt;em&gt;BBC&lt;/em&gt;. Jadi, aku minta kemakluman kalian jika tulisan yang menggabungkan fakta lapangan dengan rasio seorang mahasiswa baru yang belum terbentuk sepenuhnya ini nampak rancu dan terkesan agak tidak intelek. Namun aku beritahu kau kawan, ini hanyalah curahan perasaan dari seorang mahasiswa pada umumnya, dan seorang mahasiswa Teknik Geodesi pada khususnya, yang batinnya terluka karena melihat suatu peristiwa yang tidak sepatutnya terjadi pada “sekolah” teknik yang dibangga-banggakan Indonesia. Apalagi itu terjadi di jurusan yang juga aku geluti di Universitas Diponegoro –yang lebih dikenal orang dengan sebutan UNDIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bukan rahasia jika fakultas Teknik merupakan fakultas yang Orientasi Mahasiswa Barunya terkenal keras. Apalagi jika dikomparasikan dengan fakultas-fakultas yang &lt;em&gt;basic&lt;/em&gt; ilmunya adalah ilmu pengetahuan sosial seperti Ekonomi atau Hukum. Aku bisa membuktikannya sendiri ketika aku melihat OSPEK jurusan Teknik Mesin di kampusku. Begitu juga ketika mendengar cerita tentang OSPEK Teknik Sipil yang dari dulu memang terkenal keras. Maklum, dua jurusan itu memang jurusan yang paling tua di UNDIP. Untuk Teknik Geodesi sendiri memang tidak sekeras jurusan-jurusan lain, tapi tetap saja bentak-bentakkan dari senior tak terhindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, aku merasa OSPEK di jurusanku terasa lebih terdidik dan mendidik. Kami memang dibebani dengan tugas-tugas yang sangat berat selama masa orientasi, namun tujuan utama dari OSPEK itu sendiri yaitu memunculkan kader-kader mahasiswa yang handal serta menciptakan kekompakan di antara satu angkatan mahasiswa Teknik Geodesi angkatan 2008 –paling tidak itulah tujuan yang aku rasa telah tercapai– benar-benar aku rasakan setelah kami dilantik. Dan aku juga merasakan kalau jurusan-jurusan lain di Teknik tidak melenceng dari misi utama proses OSPEK itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sangat disayangkan jika masa proses orientasi itu diwarnai dengan tragedi memilukan yang terjadi di Teknik Geodesi ITB. Bagaimana tidak, apakah masih wajar jika OSPEK diwarnai dengan meninggalnya mahasiswa dikarenakan adanya kekerasan yang terjadi di kampus?!! Itulah yang terjadi di ITB baru-baru ini. Seorang mahasiswa baru jurusan Teknik Geodesi harus meregang nyawa karena ulah para seniornya. Sungguh memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah baiknya jika OSPEK di kampus dijadikan wahana untuk mengenalkan kampus kepada para mahasiswa baru, baik itu mengenai lingkungan kampus itu sendiri, mengenai proses pembelajaran di universitas yang tentunya sangat berbeda dengan SMA, mengenai kehidupan bersosialisasi dan berorganisasi di kampus yang nuansa politisnya jauh lebih kental dibanding dengan organisasi di SMA, atau pengenalan kehidupan mahasiswa pada umumnya. Sehingga ketika masa orientasi itu berakhir, kader-kader mahasiswa itu berani menunjukkan kemampuannya di tingkat yang lebih tinggi daripada sekedar jurusan, misalnya fakultas atau universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur kekerasan dirasa tidak relevan lagi di jaman sekarang. Buktinya, birokrasi fakultas Teknik UNDIP telah memerintahkan agar kekerasan dihilangkan sama sekali dari proses OSPEK. Jika dulu pemukulan atau tindakan-tindakan lain yang mungkin sekarang dianggap tidak wajar masih dihalalkan, untuk saat ini justru sangat ditentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, aku hanya mengingatkan agar tujuan utama dari OSPEK itu tidak diabaikan begitu saja, karena memang itulah yang menjadi landasan bagi para senior untuk mengadakannya. Karena jika tujuan itu tercapai, bukan tidak mungkin para junior yang kalian tempa itu akan menjadi mahasiswa luar biasa yang memiliki peran penting di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) fakultas, atau bahkan universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam jargon dari fakultas, Teknik akan selalu JAYA!!! Dan Geodesi akan semakin LUAR BIASA!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-6381935447242148728?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/6381935447242148728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/kekerasan-di-teknik-no-way.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/6381935447242148728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/6381935447242148728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/kekerasan-di-teknik-no-way.html' title='Kekerasan di Teknik? No Way!!!'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZAgkUPJRjI/AAAAAAAAACQ/Dayx3FH3hYo/s72-c/pilar%25201.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-4007032771118005981</id><published>2009-02-09T03:58:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T04:34:35.452-08:00</updated><title type='text'>Tsunami, Teman yang Tak Diharapkan tapi Begitu Dekat dengan Kita</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZAcgkO_27I/AAAAAAAAACI/p7cSWSbjIHg/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300768107223047090" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 264px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZAcgkO_27I/AAAAAAAAACI/p7cSWSbjIHg/s400/untitled.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku memilih judul ini karena cukup representatif untuk menggambarkan “kedekatan” Indonesia dengan bencana yang meluluhlantakkan NAD empat tahun silam.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika bisa memilih, tentu tak ada yang menginginkan gelombang yang berasal dari air laut itu mendekati tanah air kita. Tapi apa lacur, kondisi geografis Indonesia yang tak menguntungkan memaksa kita untuk tetap siaga menghadapi bencana tsunami yang setiap saat dapat terjadi. Posisi Indonesia yang terletak di antara pertemuan tiga lempeng bumi yang besar yaitu Eurasia, Samudra Pasifik, dan Indo-Australia membuat perairan laut di sekitar kita sering mengalami gempa bumi yang memicu terjadinya tsunami.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tsunami berasal dari bahasa Jepang. &lt;em&gt;Tsu&lt;/em&gt; artinya pelabuhan dan &lt;em&gt;nami&lt;/em&gt; adalah gelombang. Jadi, secara harfiah tsunami adalah gelombang laut yang besar di pelabuhan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tsunami dapat terjadi karena beberapa faktor, di mana faktor tersebut merupakan gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut. Gangguan impulsif itu dapat berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik, longsoran (&lt;em&gt;land-slide&lt;/em&gt;), atau jatuhnya meteor di laut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Faktor yang menyebabkan berbagai macam tragedi tsunami yang menghancurkan beberapa daerah di Indonesia serta banyak memakan korban jiwa lebih banyak dihasilkan oleh gempa bumi tektonik. Seperti telah dijabarkan di atas, Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng bumi. Konsekuensinya, negara kita berada di atas permukaan bumi yang tidak stabil karena ketiga lempeng tersebut senantiasa bergerak relatif ke barat dan ke utara terhadap Eurasia. Akibatnya, Indonesia termasuk negara yang memiliki tingkat kegempaan tinggi di dunia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak semua gempa bumi dapat menghasilkan tsunami. Berdasarkan penelitian, gempa baru bisa menciptakan tsunami jika berkekuatan minimal 6,5 SR (Skala Richter). Selain itu, pusat gempanya harus berada kurang dari 60 km dari permukaan laut, dan gempa tersebut harus menghasilkan deformasi dasar laut secara vertikal yang cukup besar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lempeng Indo-Australia terus bergerak rata-rata 6 cm setiap tahunnya ke arah utara. Lempeng tersebut terus bergerak menunjam lempeng Eurasia. Bagian ujung dari lempeng Eurasia tersebut terus terdorong ke bawah, secara terus-menerus hingga terjadi akumulasi tegangan. Jika akumulasi tegangan tersebut telah mencapai batasnya, energi yang terkumpul akan dikeluarkan secara tiba-tiba. Lempeng Eurasia akan melenting ke atas dan terjadilah gempa. Pergerakan vertikal ujung lempeng Eurasia inilah yang menimbulkan gangguan impulsif medium laut yang memicu terjadinya gelombang tsunami.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300767716726208914" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 331px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZAcJ1hS-ZI/AAAAAAAAACA/Ln6uthzaRX0/s400/tsunami-formation.gif" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia terjadi di wilayah pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Sedangkan di Indonesia timur, lempeng yang saling bertabrakan adalah Indo-Australia dan Pasifik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nah, jika sudah demikian, tak ada yang dapat dilakukan negara ini selain mengantisipasi terjadinya tsunami lebih awal agar tidak lagi memakan banyak korban jiwa seperti yang terjadi di Aceh, 26 Desember 2004. Fenomena alam ini tidak mungkin kita cegah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Langkah yang paling bijaksana tentu dengan memberikan pendidikan dan sosialisasi tentang tsunami kepada penduduk pesisir itu sendiri. Karena jika bencana tsunami itu terjadi, hanya diri mereka sendirilah yang dapat menyelamatkan jiwa mereka. Jadi, pengetahuan mengenai langkah-langkah penyelamatan diri saat akan terjadi tsunami mutlak diperlukan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat terjadi gempa di pantai dan kita melihat air laut surut mendadak, secepat mungkin kita harus lari ke tempat yang lebih tinggi. Dan lebih baik jika kita tidak menggunakan mobil, karena itu hanya akan menghambat sebab kemacetan sangat mungkin terjadi. Dan jika kita sedang berada di laut, segara pacu kapal kita ke tengah laut. Karena gelombang tsunami akan meninggi ketika ia berada di perairan yang dangkal.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedangkan untuk langkah preventif, alangkah baiknya jika kita melestarikan hutan pantai seperti cemara, waru, ketapang, atau mangrove. Terbukti hutan itu mampu menahan tsunami dengan ketinggian belasan meter sehingga gelombang pun tidak lebih merusak daripada jika tidak ada hutan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan pesanku untuk seluruh rakyat Indonesia, waspadalah, karena tsunami mengintai kita setiap saat. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-4007032771118005981?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/4007032771118005981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/tsunami-teman-yang-tak-diharapkan-tapi.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/4007032771118005981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/4007032771118005981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/tsunami-teman-yang-tak-diharapkan-tapi.html' title='Tsunami, Teman yang Tak Diharapkan tapi Begitu Dekat dengan Kita'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZAcgkO_27I/AAAAAAAAACI/p7cSWSbjIHg/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-8900850972495238951</id><published>2009-02-08T00:27:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T02:17:45.115-08:00</updated><title type='text'>Kala Pemaknaan Itu Dipertemukan oleh Cinta</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang. Suasana tenang, namun dingin menusuk tubuhku, memasuki rongga-rongga kulit menuju setiap sisi-sisi tulangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap ke luar jendela. Rasanya baru kali ini aku merasakan kegembiraan seperti ini, walaupun aku pernah mendapati diriku lebih bahagia dari sekarang ini. Dan tahukah kau kawan, hal apa yang mampu membuat hati pengembara menjadi riang gembira seolah tak ada beban di pundaknya? Itu adalah ketika ia kembali ke kampung halamannya dengan membawa hasil perantauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu berlebihan memang jika menyebutku seorang "pengembara". Di sekitarku banyak yang lebih pantas menyandang "gelar" itu. Sekian bulan tak kembali ke kampung halaman, kepulangan mereka kali ini pasti lebih bermakna dariku yang sudah tiga kali mudik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak peduli. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku seperti memberi sesuatu yang nyata kepada orang tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan mendadak menyergap batinku. Memori membawaku pada masa kecilku. Dulu aku adalah seorang anak yang bandel. Seringkali aku dinasehati ayahku agar otak kiriku selalu dikembangkan, namun aku selalu menolaknya. Tak ayal, prestasi akademikku di sekolah tak pernah spesial. Ibuku, yang jauh lebih sabar dari ayah, selalu menemaniku belajar setiap malam, meski terkadang aku melakukannya dengan terpaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiranku yang kini (semakin) dewasa membawaku pada sebuah pertanyaan, "Jika aku memiliki anak kecil yang tingkahnya seperti waktu aku kecil dulu, apa aku akan sabar menghadapinya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pertanyaan itu justru membawaku pada kerinduan yang amat sangat. Sungguh luar biasa apa yang telah mereka lakukan dalam 18 tahun hidupku di dunia ini. Mereka merupakan "arsitek" yang sangat sabar dalam "membangun" kepribadian anak-anak mereka. Padahal, bangunan yang mereka rancang sesungguhnya sangat rapuh. Namun dengan bekal berupa cinta, mereka melakukannya dengan ikhlas. Dan hasil akhirnya sungguh luar biasa. Aku merasakan cinta itu menyelimuti diriku selalu, dan membangun kekuatan besar yang mengokohkanku hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin dapat memaknai hidup ini. Aku tahu arah dan tujuan hidupku. Aku mengerti untuk apa aku selama ini berjuang dan berkarya untuk dapat bermakna. Ayah, ibu, aku bukan apa-apa tanpa kalian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaknaan hidup laksana jalan berliku yang tak akan dapat dilalui dengan sekali tempuh. Makna itu tak akan kau dapat sebelum kau merasakan rintangan yang pasti kau temui di jalan itu. Kau akan selalu dibawa dalam ruang ketidakpastian selama kau belum menemukan tujuan dari makna hidup itu. Dan untuk menemukan pemaknaan hidup itu kau mesti selalu berusaha keluar dari ruang tersebut dengan kekuatan yang dapat kau ciptakan sendiri, yaitu keteguhan hati karena kebenaran yang ada di dalam hatimu, bukan sebuah manipulasi objektif berupa pembenaran yang berdasar atas emosi jiwa yang tak stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku telah menemukannya sekarang. Apa yang telah aku dapat itu adalah karena pemikiranku yang makin dewasa -ini sudah seharusnya- yang membuatku mengerti akan pemaknaan hidup ini. Dan salah satu makna yang aku dapatkan dan sangat aku hargai adalah makna cinta kedua orang tuaku, yang akhirnya membantuku mengenal pemaknaan hidupku secara komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu aku sebutkan apa yang aku bawa dari tanah perantauanku untuk kubanggakan di hadapan orang tuaku. Yang pasti, di tanah yang kini aku anggap sebagai rumah keduaku itu aku mendapatkan segalanya yang tak aku dapat sebelumnya, di mana itu diakibatkan oleh keterbatasanku yang sebenarnya kuciptakan sendiri. Satu pelajaran yang dapat aku petik, aku dapat mengatakan kalau segala kekurangan yang dimiliki manusia sebenarnya tak perlu ada jika mereka berkata kepada dirinya sendiri bahwa AKU BISA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kakiku sampai juga di tanahku sendiri. Langkahku mantap. Pandanganku menatap lurus menuju desa yang memiliki sejarah besar bagiku ini. Beratnya beban bawaan yang aku gendong serasa tak berarti mengingat betapa bahagianya aku pulang dengan membawa "sesuatu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku menyambutku. Aku lalu memberikan kecupan sayang untuknya. Tanpa perlu pikir panjang aku segera masuk untuk menghampiri ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meletakkan tas bawaanku dan mencium tangan ibu. Aku lalu menyerahkan apa yang telah aku dapat di sana untuk kudedikasikan kepada beliau...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perantauan anakmu tak sia-sia, Bu...." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300737981593722818" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 282px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZABHBhQn8I/AAAAAAAAABw/Lale2K43oWg/s400/untitled.bmp" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300739239006627810" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 205px; CURSOR: hand; HEIGHT: 119px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZACQNv25-I/AAAAAAAAAB4/tukqce1CN5E/s400/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-8900850972495238951?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/8900850972495238951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/kala-pemaknaan-itu-dipertemukan-oleh.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/8900850972495238951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/8900850972495238951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/kala-pemaknaan-itu-dipertemukan-oleh.html' title='Kala Pemaknaan Itu Dipertemukan oleh Cinta'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SZABHBhQn8I/AAAAAAAAABw/Lale2K43oWg/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-2928603452125165880</id><published>2009-02-06T19:45:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T01:36:33.139-08:00</updated><title type='text'>Kekuatan Itu Bernama Mimpi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Renungan kembali menghampiri diriku. Aku bisa saja bermimpi menjadi salah satu orang penting di negeri ini, tapi layakkah aku berangan-angan seperti itu padahal menjadi nomor satu di lingkunganku saja hampir tidak pernah?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bangun, bangun! Dunia ini bukan pentas mimpi!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Itu egoku yang berkata. Bukan batinku! Aku bukan orang yang lemah seperti itu! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Kau bukan siapa-siapa! Lihat dirimu, apa yang pernah kau lakukan di sekitarmu? Karya apa yang telah kau hasilkan selama ini? Pernahkah kau membuat orang tuamu bangga? Pernahkah kau membuat orang-orang terpukau karena kehebatanmu? Pernahkah kau menjadi pemimpin yang sukses menjalankan amanah dari orang-orang yang mengharapkanmu?!!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah. Satupun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Nah, kau yang menjawabnya sendiri. Tak ada lagi harapan. Selamanya kau hanya akan menjadi orang ke sekian yang tak penting. Kau akan selalu berada di belakang, tertutup oleh orang-orang yang senantiasa berbuat dan berkarya! Kau takkan bisa berada di depan mereka!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku rapuh. Kakiku seperti tak sanggup lagi menyangga badanku. Apakah benar aku tak mempunyai hak untuk menjadi seseorang yang berguna untuk bangsa ini, sesuatu yang menjadi impianku selama ini?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;TIDAK!!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika aku menuruti "setan" kecil yang bersemayam di dalam hatiku, sungguh, alangkah bodohnya diriku ini!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekian lama aku berada dalam lingkaran pemikiran antara kepastian dan ketidakmungkinan. Batinku menjelajah semua teori yang mengandung probabilitas di antara kemustahilan. Dan aku sampai pada sebuah elemen parsial yang mewakili sebuah benda konkret yang bernama kesuksesan. Elemen itu senantiasa bermukim dalam setiap jiwa pemikiran manusia. Elemen itu selalu ada dalam batin seseorang. Bahkan elemen itu tak pernah henti menemani hidup dari semua orang. Hanya, tak semua orang mampu mengkonversikan elemen itu sebagai sebuah substansi yang dapat mengubah keseluruhan hidupnya. Kawan, akhirnya aku menyadari. Elemen itulah yang nantinya akan mengubah hidupku selamanya. Elemen itu benama mimpi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Percayakah kau kawan, bahwa "benda kecil" seperti mimpi dapat melakukan sesuatu yang sangat besar?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kawan, coba tanyakan apa yang menjadi kekuatan utama yang melandasi kesuksesan seseorang. Aku yakin, kekuatan utama yang pertama kali mereka himpun untuk meraih sukses mereka adalah mimpi dan harapan dari kesuksesan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang frustasi sering berkata, "Kesuksesan itu sudah dari &lt;em&gt;sononya&lt;/em&gt;. Jadi &lt;em&gt;ngapain&lt;/em&gt; kita usaha?!"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku ingin menanyakan satu hal. Jika ada orang yang dilahirkan dengan kondisi miskin, tuli, dan dicap idiot, bagaimana pandangan Anda mengenai orang tersebut? Jangankan menyebutnya sebagai manusia yang bermakna, untuk sekedar menganggapnya ada pun masih untung.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi lihatlah apa yang Thomas Alva Edison lakukan. Berkat kemauan keras dan prinsip hidupnya yang mengatakan bahwa "bakat itu adalah 1% ilham ditambah 99% kerja keras”, ia menjadi penemu yang disegani bahkan hingga puluhan tahun setelah kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SY0Zm5uty5I/AAAAAAAAAA4/eUDriv-5Rs8/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;James Watt juga bukan tidak pernah gagal. Pada saat itu, Watt sama sekali tidak pernah mengoperasikan mesin uap. Hanya saja, keinginannya untuk tetap berusaha untuk membuat satu model mesin membara dalam hatinya. Walaupun gagal, dia tetap melanjutkan percobaannya. Dia kemudian secara terpisah menemukan pentingnya energi panas yang ditimbulkan dan diserap oleh tiap-tiap obyek untuk mengerti lebih jauh tentang mesin. Akhirnya pada tahun 1765 dia berhasil membuat sebuah model mesin yang dapat bekerja dengan baik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah dasar, Orville pernah dikeluarkan dari sekolah. Namun mimpinya dengan Wilbur -yang kini kita kenal dengan Wright bersaudara- untuk membuat pesawat terbang telah mengantarnya menjadi seseorang yang berpengaruh dalam peradaban di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SY0dVnrJApI/AAAAAAAAABg/9pnTuG5WCJA/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299924593749328530" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 116px; height: 149px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SY0dVnrJApI/AAAAAAAAABg/9pnTuG5WCJA/s400/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299924959516755634" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 88px; height: 126px; text-align: center;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SY0dq6Q5BrI/AAAAAAAAABo/wB_X0pa9yFU/s400/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikal dan Arai pun tak pernah berhenti bermimpi untuk menjejakkan kakinya di Sorbonne University. Padahal, jika kita melihat seorang anak kecil yang bersekolah di SD yang lebih mirip kandang kambing, di mana sekolah tersebut terletak di desa yang bahkan tak terjangkau citra satelit untuk dimuat di peta (ini hanyalah sebuah analogi untuk mengibaratkan bagaimana desa tersebut begitu tak dianggap), apakah pandangan Anda? Kita semua tentu akan berkata, "Percuma saja sekolah kalau tempat sekolahnya &lt;em&gt;kayak gitu&lt;/em&gt;". Nyatanya, apa hasilnya? Cita-cita mereka tercapai. Kekuatan mimpi menunjukkan keajaibannya kepada dua bocah Belitong itu. Mereka adalah sang pemimpi sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SY0b9vhlr8I/AAAAAAAAABQ/hjLQvUJOoxo/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299923961192207474" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 118px; height: 117px; text-align: center;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SY0cwzNxVHI/AAAAAAAAABY/5saVLwtYx18/s400/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;Semua hasil karya mereka takkan pernah ada di muka bumi ini jika mereka tak memiliki mimpi untuk mewujudkannya. Dan aku tak akan pernah berhenti bermimpi. Bermimpi menjadi seseorang yang luar biasa. Bermimpi menjadi penulis novel yang namanya terdengar seantero Indonesia dan Asia Tenggara. Bermimpi menjadi seseorang yang berpengaruh penting dalam penanganan bencana di negeri ini. Atau bermimpi untuk bisa mewujudkan keinginan besarku, yaitu berkeliling Inggris untuk mengunjungi London, Manchester, dan Liverpool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi suara itu datang. &lt;em&gt;Hei, Bung! Jangan terlalu banyak bermimpi! Lekas bangun!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Baiklah. Aku memang akan bangun dan mewujudkan semua mimpi-mimpiku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan suara itu terdiam untuk selamanya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-2928603452125165880?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/2928603452125165880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/kekuatan-itu-bernama-mimpi.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/2928603452125165880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/2928603452125165880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/kekuatan-itu-bernama-mimpi.html' title='Kekuatan Itu Bernama Mimpi'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SY0dVnrJApI/AAAAAAAAABg/9pnTuG5WCJA/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-7654026661524210127</id><published>2009-02-05T19:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T19:35:59.012-08:00</updated><title type='text'>We Will Not Go Down</title><content type='html'>(Composed by Michael Heart)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A blinding flash of white light&lt;br /&gt;Lit up the sky over Gaza tonight&lt;br /&gt;People running for cover&lt;br /&gt;Not knowing whether they’re dead or alive&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They came with their tanks and their planes&lt;br /&gt;With ravaging fiery flames&lt;br /&gt;And nothing remains&lt;br /&gt;Just a voice rising up in the smoky haze&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In the night, without a fight&lt;br /&gt;You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;br /&gt;But our spirit will never die&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In Gaza tonight&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Women and children alike&lt;br /&gt;Murdered and massacred night after night&lt;br /&gt;While the so-called leaders of countries afar&lt;br /&gt;Debated on who’s wrong or right&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But their powerless words were in vain&lt;br /&gt;And the bombs fell down like acid rain&lt;br /&gt;But through the tears and the blood and the pain&lt;br /&gt;You can still hear that voice through the smoky haze&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In the night, without a fight&lt;br /&gt;You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;br /&gt;But our spirit will never die&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In Gaza tonight&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-7654026661524210127?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/7654026661524210127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/we-will-not-go-down.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/7654026661524210127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/7654026661524210127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/we-will-not-go-down.html' title='We Will Not Go Down'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2419368950274872880.post-1648909749159154168</id><published>2009-02-05T18:02:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T19:06:17.241-08:00</updated><title type='text'>Indonesiaku.... Aku Menangis....</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuhh1NbUnI/AAAAAAAAAAo/jwU7izIX6OQ/s1600-h/379157723_aef04b9c41.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299506989122671218" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuhh1NbUnI/AAAAAAAAAAo/jwU7izIX6OQ/s320/379157723_aef04b9c41.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku menatap layar televisi dengan pandangan hampa. Badanku terdiam, mulutku juga tertutup rapat. Tapi dalam hati aku merasakan sakit yang tak terperih. Batinku miris melihat kondisi bangsaku yang kian hari kian carut-marut. Sebegitu besarkah dosa yang dibuat negara yang sangat aku cintai ini, sehingga berbagai macam masalah dan bencana tak henti-hentinya melanda Indonesia?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku memang salah satu orang beruntung yang tak pernah merasakan tidak enaknya dilanda banjir. Tapi melihat beban dan penderitaan saudara-saudaraku di belahan permukaan Indonesia lain yang tempat tinggalnya dilanda banjir, aku sampai tak mampu menggambarkan bagaimana prihatinnya diriku. Bahkan seketika aku berkhayal, andaikan aku telah lulus kuliah dan menjadi geodet yang luar biasa, aku ingin menerapkan sistem drainase yang tidak memungkinkan terjadi banjir, atau mengadopsi sistem pengairan Belanda yang membuat negara itu aman walaupun secara geografis berada lebih rendah dari permukaan laut. Oh, seandainya aku mampu mewujudkannya....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun aku segera tersadar dan mendapati bahwa diriku hanyalah seorang mahasiswa semester satu yang belum tahu apa-apa. Mungkin terlalu jauh berangan-angan kalau diriku adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam penanganan bencana di negeri ini, tapi apa salahnya bermimpi selama mimpi itu adalah awal untuk meraih segalanya?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Itu baru banjir. Tanah longsor juga belum henti menunjukkan amukannya. Rumah-rumah yang terletak di tebing bantaran sungai terancam terjatuh lantaran tanah yang menyangga mereka ambruk karena dihajar hujan selama berhari-hari. Bayangkan, seandainya tempat tinggal kita yang mengalami nasib demikian, bagaimana perasaan kita? Tentunya kita hanya dapat menyalahkan alam, memaki-maki keadaan, atau mencala Yang Di Atas... Bayangkan, bayangkan kalau itu yang melanda kita....&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Padahal, itu semua baru bencana "kecil". Coba ingat tragedi yang menimpa Aceh tanggal 26 Desember 2004. Kala itu, gelombang setinggi puluhan meter menghancurkan Aceh hingga berkilo-kilo dari tepi pantai. Tsunami yang ganas membinasakan semua yang ada di sana.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masalahnya, bencana tsunami sangat mungkin terjadi lagi di Indonesia. Posisi yang tidak menguntungkan karena berada di antara tiga pertemuan lempeng tektonik -Eurasia, Pasifik, dan Indo Australia- membuat potensi gempa di Indonesia menjadi sangat besar. Tabrakan lempeng-lempeng itu sangat memungkinkan terjadinya tsunami di masa yang akan datang. Faktanya, pascatsunami Aceh, Pangandaran dan Cilacap mengalami bencana serupa. Tapi, tentunya kita berharap bencana mengerikan itu tak lagi memakan korban di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masalah alam tak kunjung usai, masalah sosial seolah tak mau ketinggalan menampakkan beritanya di televisi. Kita boleh mengaku sebagai negara demokratis, tapi apakah demokrasi di negeri ini sudah diterapkan dengan benar atau hanya sebatas formalitas untuk membuat pemikiran rakyat semakin rancu antara "kebebasan" dengan "kebablasan"? Aku yakin ini akan menjadi tugas yang berat untuk pemerintah Indonesia, sekarang dan untuk ke depan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku memang mahasiswa Teknik yang tak tahu apa-apa mengenai birokrasi negeri ini yang semakin lama semakin tak jelas arah tujuannya. Tapi paling tidak aku peduli dan ingin tahu akan semua keadaan di Indonesia, dan di masa depan aku ingin berperan dalam mewujudkan negeri yang makmur di tanah air Indonesia...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi maafkan jika aku skeptis. Kasus terbaru di Medan, Sumatera Utara kemarin semakin membuatku ingin menangis melihat kondisi bangsaku. Bagaimana tidak, kasus pemimpin dibunuh rakyatnya sendiri masih terjadi di jaman sekarang ini? Dan alasan yang melandasi niat mereka sungguh tak dapat diterima -paling tidak olehku. Mereka "hanya" menuntut pemekaran wilayah Provinsi Tapanuli.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekarang aku ingin bertanya, apakah dengan alasan itu mereka layak mengorbankan nyawa seorang ketua DPRD???!!!!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekali lagi, aku hanya mahasiswa Teknik yang sebenarnya tak cukup pantas menyampaikan pendapatku mengenai politik. Kalaupun tulisanku ini dibaca oleh orang politik yang pro dengan niat massa -pembentukan Provinsi Tapanuli- aku pasti dicerca habis-habisan. Tapi kembali aku tegaskan, ini hanyalah wujud kepedulian dari seorang anak bangsa yang menginginkan kemakmuran di negerinya. Aku di sini berbicara bukan sebagai pengamat politik atau kaum intelektual. Aku hanya berbicara sebagai seorang rakyat biasa. Jadi maaf saja jika tulisanku ini tak mempunyai cukup kekuatan untuk diperdebatkan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku juga mengerti benar, tidak mudah memimpin sebuah negara yang sangat luas di mana dalam setiap rezim di negara itu selalu saling mewariskan masalah yang kompleks untuk pemerintahan berikutnya. Tapi agaknya calon presiden terpilih yang akan mulai memimpin di tahun 2009 ini menyadari, jika Anda sudah berani terjun dalam Pemilu, Anda harus dapat mewujudkan SEMUA amanah yang rakyat embankan di pundak Anda!!! Bukan menunjukkan ambisi yang berlebihan untuk mendapat kursi pemimpin seperti yang terjadi dalam pemilihan gubernur Jawa Timur. Sungguh memalukan!!!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai rakyat aku hanya mengharapkan yang terbaik bagi negeriku. Dan aku berharap aku dapat melakukan sesuatu yang nyata untuk negeriku di masa mendatang. Karena aku berjuang mendapatkan pendidikan tertinggi salah satunya juga demi pengabdianku untuk bangsa ini....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2419368950274872880-1648909749159154168?l=mimpidanharapan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/feeds/1648909749159154168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/indonesiaku-aku-menangis.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/1648909749159154168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2419368950274872880/posts/default/1648909749159154168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpidanharapan.blogspot.com/2009/02/indonesiaku-aku-menangis.html' title='Indonesiaku.... Aku Menangis....'/><author><name>blog danang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10328437918213715766</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuZcoCmIJI/AAAAAAAAAAM/oyhlFV2lfcQ/S220/IMG_2576.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3T0OMRRzHOM/SYuhh1NbUnI/AAAAAAAAAAo/jwU7izIX6OQ/s72-c/379157723_aef04b9c41.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
