Tanggal 20 April kemarin, para siswa kelas 3 SMA menentukan nasibnya dalam Ujian Nasional. Tak sedikit yang panik dalam menatap ujian yang ditentukan tak hanya oleh bekal akademis, namun juga faktor keberuntungan itu. Aku dapat memahami beban mereka, karena aku juga merasakannya benar tahun lalu. Persiapan yang salah membuatku begitu stres di bulan-bulan seperti ini pada tahun 2008. Tapi Alhamdulillah, karena izin-Nya dan juga keberuntungan yang aku katakan tadi, aku berhasil lolos dari kekhawatiran yang sungguh mengerikan dari konsekuensi negatif yang bisa didapatkan, yaitu tidak lulus SMA.
Sekarang aku memang telah menapaki babak baru di bangku kuliah. Aku memang telah menanggalkan seragam putih abu-abuku dan telah berubah status dari siswa menjadi mahasiswa, dari remaja menjadi pemuda, dari beban orang tua –walaupun aku tahu mereka tak akan terbebani olehku– menjadi pemberi harapan untuk keluarga. Namun sungguh, mendekati waktu Ujian Nasional tahun ini, aku masih saja merasa janggal. Terutama saat aku melihat bagaimana takutnya para siswa dalam menghadapi Ujian Nasional ini lewat televisi, juga saat aku merasakan kekhawatiran adik kelasku menjelang ujian. Seolah-olah aku akan mengulanginya lagi tahun ini.
Sekarang aku ingin memberikan sebuah komparasi. Pada hari yang sama, aku juga melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS). Namun perasaan yang melingkupiku malam harinya sungguh berbeda dengan apa yang para siswa kelas 3 rasakan. Terang saja, apa yang akan aku hadapi bukanlah sebuah penentuan nasib yang akan 100% memberikan keputusan akan kelangsungan hidupku. Nilai UTS hanya beberapa persen dari akumulasi nilai total untuk satu semester. Terlebih, yang aku perlukan dalam menghadapi ujian tersebut hanya kesiapan ilmu yang telah aku dapatkan. Sangat kontras dengan apa yang dipikirkan oleh siswa kelas 3. Ujian Nasional benar-benar menentukan hidup mereka selanjutnya. Mereka tak hanya membutuhkan kesiapan dalam hal akademis, namun juga kesiapan teknis (seperti pengisian lembar jawaban yang tidak boleh salah) dan kesiapan mental yang benar-benar matang. Jika gagal, waktu sekitar 3 tahun yang mereka habiskan di SMA sungguh sia-sia. Ijazah kelulusan yang merupakan syarat mutlak masuk perguruan tinggi hanyalah impian belaka.
Dari dulu aku heran, sesungguhnya apa yang menjadi pertimbangan pemerintah dalam melaksanakan kebijakan Ujian Nasional? Pemikiran apa yang melandasi mereka dalam mengonsep Ujian Nasional sehingga berpengaruh mutlak kepada kelulusan siswa? Sebagai seorang yang telah mengenyam pendidikan hingga jenjang yang begitu tinggi, tak seharusnya mereka mempunyai pemikiran dangkal seperti itu. Berbagai data dari tahun ke tahun menunjukkan parahnya angka ketidaklulusan. Namun, konsep Ujian Nasional tetap saja tak berubah. Padahal, pemerataan fasilitas pendidikan di tiap daerah masih sangat jauh dari kata berhasil.
Tentu sangat tak bijak jika mengkritisi sesuatu tanpa menawarkan solusi. Menurutku, ada baiknya metode untuk menentukan kelulusan siswa mengadopsi sistem penilaian di perguruan tinggi, yang membagi prosentase antara kuis (seperti ulangan harian di SMA), praktikum, Ujian Tengah Semeter (UTS), dan Ujian Akhir Semester (UAS). UAS selalu memegang pengaruh terbesar dari keseluruhan penilaian terhadap mahasiswa, bisa mencapai 50% dari nilai total, namun tidak sepenuhnya. Mungkin ada baiknya pengaruh Ujian Nasional terhadap kelulusan siswa seperti pengaruh UAS terhadap nilai mahasiswa. Jadi, guru pun berhak menentukan kelulusan para siswanya lewat ujian praktek dan ujian sekolah, karena sesungguhnya mereka yang lebih mengetahui kemampuan siswanya. Negara hanya bisa memberikan sebagian dari keseluruhan hasil akhir siswa, bukan secara menyeluruh.
Kini aku hanya bisa berharap pemerintah bisa menggunakan otaknya dalam melaksanakan kebijakan. Jika memang mereka masih terlalu bodoh dalam memahami esensi pendidikan itu sendiri, lebih baik aku nekat maju untuk diterjunkan di kursi DPR beberapa tahun lagi demi merealisasikan niatku itu (ini hanyalah sebuah majas hiperbola, aku sama sekali tak berminat berkutat di bidang politik). Aku begitu memahami kekhawatiran yang dialami oleh para siswa kelas 3 sekarang ini. Bahkan, aku yang sebisa mungkin menekankan kejujuran dalam ujian, memaklumi ketika ada siswa yang terang-terangan menyontek saat Ujian Nasional.
Aku sangat berharap Pemilu Presiden dalam waktu dekat ini memberikan angin perubahan di segala aspek yang menentukan nasib bangsa ini, termasuk dalam bidang pendidikan. Semoga...