Selasa, 10 Februari 2009

Dua Jalan


Rangkaian makna dari setiap interpretasi jiwa terhadap kehidupan membuatku memahami arah yang selama ini aku cari. Dan pengharapan akan sesuatu yang selama ini dianggap tabu perlahan mulai memancar dalam kalbuku yang sekian lama tertipu oleh fatamorgana penyesatan duniawi, di mana selama ini aku terombang-ambing diantara dua persimpangan yang masing-masing mengantarkanku pada alam yang berbeda.

Apa yang aku dapat ini hanya bisa kuraih jika aku telah memohon kepada sang waktu untuk memberikan penjelasan antara dua persimpangan itu. Aku tak akan sanggup memaksanya untuk membuatku mengerti akan dua arah yang sama sekali berbeda itu.

Di lajur utama kita akan menemukan keindahan yang sama. Namun aku tahu, pada pertengahan dan ujung jalan tersebut keadaannya akan sangat lain. Di ujung jalan pertama kita akan menemukan kebahagiaan sejati yang tak terbayar oleh harta sekalipun. Sedangkan pada ujung jalan satunya kita akan menemukan sebuah jurang terjal yang akan membunuh kita setelah sebelumnya kita menemukan hutan belantara gersang yang diselimuti kegelapan di pertengahan jalan yang kita lalui di jalan itu.

Sudah kubilang, waktulah yang akan memberikan referensi kepada kita akan dua jalan itu. Namun ia tak akan begitu saja menjelaskan secara kasar dan gamblang apa saja yang ada di sana. Ia akan membutuhkan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahun yang lebih lama untuk memasuki setiap persendian kita, merambah melewati setiap batang tulang kita untuk menuju sesuatu yang menggerakkan tubuh kita setiap saat. Bukan otak yang ia tuju. Bukan pula mata. Ia akan menuju hati kita, membuka pintunya sedikit demi sedikit, membisikkan kata-kata penentraman untuk kita mengenai pemaknaan hidup ini, untuk akhirnya memberikan pemahaman secara mendalam kepada sang pemilik hati tersebut untuk dapat meresapi dua jalan yang akan ia pilih demi masa depannya...

Namun jika hati itu tak jua terbuka, bukan tak mungkin sang waktu kehilangan kesabarannya, lalu dalam sekejap berubah menjadi makhluk yang akan menggerogoti hati itu sedikit demi sedikit, hingga habis seluruhnya. Sehingga ia justru semakin membutakan sang pemilik hati itu untuk memilih jalan yang salah, dan akan membawanya ke jurang kematian...

Sang waktu itu selalu dimiliki oleh setiap orang. Tentukan pilihan yang akan kau ambil kawan....

Dua jalan itu adalah cinta sejati dan "cinta" semu, atau secara kasar dapat disebut nafsu...

Dan aku akan selalu menanti "dirinya" di jalan pertama....

Senin, 09 Februari 2009

Kekerasan di Teknik? No Way!!!


Awalnya aku hanya sebatas ingin melihat berita itu. Namun perhatianku langsung tersita ke sana begitu pembaca berita itu menyebutkan bahwa tragedi itu terjadi di Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung. Betapa tidak, “pembunuhan” itu terjadi di jurusan yang sama denganku.

Sebelumnya aku ingatkan kepadamu kawan, tulisanku ini hanya opini, bukan laporan investigasi dari kepolisian atau catatan berita dari seorang wartawan BBC. Jadi, aku minta kemakluman kalian jika tulisan yang menggabungkan fakta lapangan dengan rasio seorang mahasiswa baru yang belum terbentuk sepenuhnya ini nampak rancu dan terkesan agak tidak intelek. Namun aku beritahu kau kawan, ini hanyalah curahan perasaan dari seorang mahasiswa pada umumnya, dan seorang mahasiswa Teknik Geodesi pada khususnya, yang batinnya terluka karena melihat suatu peristiwa yang tidak sepatutnya terjadi pada “sekolah” teknik yang dibangga-banggakan Indonesia. Apalagi itu terjadi di jurusan yang juga aku geluti di Universitas Diponegoro –yang lebih dikenal orang dengan sebutan UNDIP.

Sudah bukan rahasia jika fakultas Teknik merupakan fakultas yang Orientasi Mahasiswa Barunya terkenal keras. Apalagi jika dikomparasikan dengan fakultas-fakultas yang basic ilmunya adalah ilmu pengetahuan sosial seperti Ekonomi atau Hukum. Aku bisa membuktikannya sendiri ketika aku melihat OSPEK jurusan Teknik Mesin di kampusku. Begitu juga ketika mendengar cerita tentang OSPEK Teknik Sipil yang dari dulu memang terkenal keras. Maklum, dua jurusan itu memang jurusan yang paling tua di UNDIP. Untuk Teknik Geodesi sendiri memang tidak sekeras jurusan-jurusan lain, tapi tetap saja bentak-bentakkan dari senior tak terhindarkan.

Hanya saja, aku merasa OSPEK di jurusanku terasa lebih terdidik dan mendidik. Kami memang dibebani dengan tugas-tugas yang sangat berat selama masa orientasi, namun tujuan utama dari OSPEK itu sendiri yaitu memunculkan kader-kader mahasiswa yang handal serta menciptakan kekompakan di antara satu angkatan mahasiswa Teknik Geodesi angkatan 2008 –paling tidak itulah tujuan yang aku rasa telah tercapai– benar-benar aku rasakan setelah kami dilantik. Dan aku juga merasakan kalau jurusan-jurusan lain di Teknik tidak melenceng dari misi utama proses OSPEK itu sendiri.

Karena itu, sangat disayangkan jika masa proses orientasi itu diwarnai dengan tragedi memilukan yang terjadi di Teknik Geodesi ITB. Bagaimana tidak, apakah masih wajar jika OSPEK diwarnai dengan meninggalnya mahasiswa dikarenakan adanya kekerasan yang terjadi di kampus?!! Itulah yang terjadi di ITB baru-baru ini. Seorang mahasiswa baru jurusan Teknik Geodesi harus meregang nyawa karena ulah para seniornya. Sungguh memprihatinkan.

Alangkah baiknya jika OSPEK di kampus dijadikan wahana untuk mengenalkan kampus kepada para mahasiswa baru, baik itu mengenai lingkungan kampus itu sendiri, mengenai proses pembelajaran di universitas yang tentunya sangat berbeda dengan SMA, mengenai kehidupan bersosialisasi dan berorganisasi di kampus yang nuansa politisnya jauh lebih kental dibanding dengan organisasi di SMA, atau pengenalan kehidupan mahasiswa pada umumnya. Sehingga ketika masa orientasi itu berakhir, kader-kader mahasiswa itu berani menunjukkan kemampuannya di tingkat yang lebih tinggi daripada sekedar jurusan, misalnya fakultas atau universitas.

Unsur kekerasan dirasa tidak relevan lagi di jaman sekarang. Buktinya, birokrasi fakultas Teknik UNDIP telah memerintahkan agar kekerasan dihilangkan sama sekali dari proses OSPEK. Jika dulu pemukulan atau tindakan-tindakan lain yang mungkin sekarang dianggap tidak wajar masih dihalalkan, untuk saat ini justru sangat ditentang.

Oleh karena itu, aku hanya mengingatkan agar tujuan utama dari OSPEK itu tidak diabaikan begitu saja, karena memang itulah yang menjadi landasan bagi para senior untuk mengadakannya. Karena jika tujuan itu tercapai, bukan tidak mungkin para junior yang kalian tempa itu akan menjadi mahasiswa luar biasa yang memiliki peran penting di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) fakultas, atau bahkan universitas.

Meminjam jargon dari fakultas, Teknik akan selalu JAYA!!! Dan Geodesi akan semakin LUAR BIASA!!!

Tsunami, Teman yang Tak Diharapkan tapi Begitu Dekat dengan Kita


Aku memilih judul ini karena cukup representatif untuk menggambarkan “kedekatan” Indonesia dengan bencana yang meluluhlantakkan NAD empat tahun silam.

Jika bisa memilih, tentu tak ada yang menginginkan gelombang yang berasal dari air laut itu mendekati tanah air kita. Tapi apa lacur, kondisi geografis Indonesia yang tak menguntungkan memaksa kita untuk tetap siaga menghadapi bencana tsunami yang setiap saat dapat terjadi. Posisi Indonesia yang terletak di antara pertemuan tiga lempeng bumi yang besar yaitu Eurasia, Samudra Pasifik, dan Indo-Australia membuat perairan laut di sekitar kita sering mengalami gempa bumi yang memicu terjadinya tsunami.

Tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu artinya pelabuhan dan nami adalah gelombang. Jadi, secara harfiah tsunami adalah gelombang laut yang besar di pelabuhan.

Tsunami dapat terjadi karena beberapa faktor, di mana faktor tersebut merupakan gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut. Gangguan impulsif itu dapat berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik, longsoran (land-slide), atau jatuhnya meteor di laut.

Faktor yang menyebabkan berbagai macam tragedi tsunami yang menghancurkan beberapa daerah di Indonesia serta banyak memakan korban jiwa lebih banyak dihasilkan oleh gempa bumi tektonik. Seperti telah dijabarkan di atas, Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng bumi. Konsekuensinya, negara kita berada di atas permukaan bumi yang tidak stabil karena ketiga lempeng tersebut senantiasa bergerak relatif ke barat dan ke utara terhadap Eurasia. Akibatnya, Indonesia termasuk negara yang memiliki tingkat kegempaan tinggi di dunia.

Tidak semua gempa bumi dapat menghasilkan tsunami. Berdasarkan penelitian, gempa baru bisa menciptakan tsunami jika berkekuatan minimal 6,5 SR (Skala Richter). Selain itu, pusat gempanya harus berada kurang dari 60 km dari permukaan laut, dan gempa tersebut harus menghasilkan deformasi dasar laut secara vertikal yang cukup besar.

Lempeng Indo-Australia terus bergerak rata-rata 6 cm setiap tahunnya ke arah utara. Lempeng tersebut terus bergerak menunjam lempeng Eurasia. Bagian ujung dari lempeng Eurasia tersebut terus terdorong ke bawah, secara terus-menerus hingga terjadi akumulasi tegangan. Jika akumulasi tegangan tersebut telah mencapai batasnya, energi yang terkumpul akan dikeluarkan secara tiba-tiba. Lempeng Eurasia akan melenting ke atas dan terjadilah gempa. Pergerakan vertikal ujung lempeng Eurasia inilah yang menimbulkan gangguan impulsif medium laut yang memicu terjadinya gelombang tsunami.



Pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia terjadi di wilayah pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Sedangkan di Indonesia timur, lempeng yang saling bertabrakan adalah Indo-Australia dan Pasifik.

Nah, jika sudah demikian, tak ada yang dapat dilakukan negara ini selain mengantisipasi terjadinya tsunami lebih awal agar tidak lagi memakan banyak korban jiwa seperti yang terjadi di Aceh, 26 Desember 2004. Fenomena alam ini tidak mungkin kita cegah.

Langkah yang paling bijaksana tentu dengan memberikan pendidikan dan sosialisasi tentang tsunami kepada penduduk pesisir itu sendiri. Karena jika bencana tsunami itu terjadi, hanya diri mereka sendirilah yang dapat menyelamatkan jiwa mereka. Jadi, pengetahuan mengenai langkah-langkah penyelamatan diri saat akan terjadi tsunami mutlak diperlukan.

Saat terjadi gempa di pantai dan kita melihat air laut surut mendadak, secepat mungkin kita harus lari ke tempat yang lebih tinggi. Dan lebih baik jika kita tidak menggunakan mobil, karena itu hanya akan menghambat sebab kemacetan sangat mungkin terjadi. Dan jika kita sedang berada di laut, segara pacu kapal kita ke tengah laut. Karena gelombang tsunami akan meninggi ketika ia berada di perairan yang dangkal.

Sedangkan untuk langkah preventif, alangkah baiknya jika kita melestarikan hutan pantai seperti cemara, waru, ketapang, atau mangrove. Terbukti hutan itu mampu menahan tsunami dengan ketinggian belasan meter sehingga gelombang pun tidak lebih merusak daripada jika tidak ada hutan.

Dan pesanku untuk seluruh rakyat Indonesia, waspadalah, karena tsunami mengintai kita setiap saat.

Minggu, 08 Februari 2009

Kala Pemaknaan Itu Dipertemukan oleh Cinta



Kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang. Suasana tenang, namun dingin menusuk tubuhku, memasuki rongga-rongga kulit menuju setiap sisi-sisi tulangku.

Aku menatap ke luar jendela. Rasanya baru kali ini aku merasakan kegembiraan seperti ini, walaupun aku pernah mendapati diriku lebih bahagia dari sekarang ini. Dan tahukah kau kawan, hal apa yang mampu membuat hati pengembara menjadi riang gembira seolah tak ada beban di pundaknya? Itu adalah ketika ia kembali ke kampung halamannya dengan membawa hasil perantauannya.

Terlalu berlebihan memang jika menyebutku seorang "pengembara". Di sekitarku banyak yang lebih pantas menyandang "gelar" itu. Sekian bulan tak kembali ke kampung halaman, kepulangan mereka kali ini pasti lebih bermakna dariku yang sudah tiga kali mudik.

Tapi aku tak peduli. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku seperti memberi sesuatu yang nyata kepada orang tuaku.

Kerinduan mendadak menyergap batinku. Memori membawaku pada masa kecilku. Dulu aku adalah seorang anak yang bandel. Seringkali aku dinasehati ayahku agar otak kiriku selalu dikembangkan, namun aku selalu menolaknya. Tak ayal, prestasi akademikku di sekolah tak pernah spesial. Ibuku, yang jauh lebih sabar dari ayah, selalu menemaniku belajar setiap malam, meski terkadang aku melakukannya dengan terpaksa.

Pemikiranku yang kini (semakin) dewasa membawaku pada sebuah pertanyaan, "Jika aku memiliki anak kecil yang tingkahnya seperti waktu aku kecil dulu, apa aku akan sabar menghadapinya?"

Namun pertanyaan itu justru membawaku pada kerinduan yang amat sangat. Sungguh luar biasa apa yang telah mereka lakukan dalam 18 tahun hidupku di dunia ini. Mereka merupakan "arsitek" yang sangat sabar dalam "membangun" kepribadian anak-anak mereka. Padahal, bangunan yang mereka rancang sesungguhnya sangat rapuh. Namun dengan bekal berupa cinta, mereka melakukannya dengan ikhlas. Dan hasil akhirnya sungguh luar biasa. Aku merasakan cinta itu menyelimuti diriku selalu, dan membangun kekuatan besar yang mengokohkanku hingga sekarang.

Aku semakin dapat memaknai hidup ini. Aku tahu arah dan tujuan hidupku. Aku mengerti untuk apa aku selama ini berjuang dan berkarya untuk dapat bermakna. Ayah, ibu, aku bukan apa-apa tanpa kalian...

Pemaknaan hidup laksana jalan berliku yang tak akan dapat dilalui dengan sekali tempuh. Makna itu tak akan kau dapat sebelum kau merasakan rintangan yang pasti kau temui di jalan itu. Kau akan selalu dibawa dalam ruang ketidakpastian selama kau belum menemukan tujuan dari makna hidup itu. Dan untuk menemukan pemaknaan hidup itu kau mesti selalu berusaha keluar dari ruang tersebut dengan kekuatan yang dapat kau ciptakan sendiri, yaitu keteguhan hati karena kebenaran yang ada di dalam hatimu, bukan sebuah manipulasi objektif berupa pembenaran yang berdasar atas emosi jiwa yang tak stabil.

Dan aku telah menemukannya sekarang. Apa yang telah aku dapat itu adalah karena pemikiranku yang makin dewasa -ini sudah seharusnya- yang membuatku mengerti akan pemaknaan hidup ini. Dan salah satu makna yang aku dapatkan dan sangat aku hargai adalah makna cinta kedua orang tuaku, yang akhirnya membantuku mengenal pemaknaan hidupku secara komprehensif.

Tak perlu aku sebutkan apa yang aku bawa dari tanah perantauanku untuk kubanggakan di hadapan orang tuaku. Yang pasti, di tanah yang kini aku anggap sebagai rumah keduaku itu aku mendapatkan segalanya yang tak aku dapat sebelumnya, di mana itu diakibatkan oleh keterbatasanku yang sebenarnya kuciptakan sendiri. Satu pelajaran yang dapat aku petik, aku dapat mengatakan kalau segala kekurangan yang dimiliki manusia sebenarnya tak perlu ada jika mereka berkata kepada dirinya sendiri bahwa AKU BISA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Akhirnya kakiku sampai juga di tanahku sendiri. Langkahku mantap. Pandanganku menatap lurus menuju desa yang memiliki sejarah besar bagiku ini. Beratnya beban bawaan yang aku gendong serasa tak berarti mengingat betapa bahagianya aku pulang dengan membawa "sesuatu".

Adikku menyambutku. Aku lalu memberikan kecupan sayang untuknya. Tanpa perlu pikir panjang aku segera masuk untuk menghampiri ibuku.

Aku meletakkan tas bawaanku dan mencium tangan ibu. Aku lalu menyerahkan apa yang telah aku dapat di sana untuk kudedikasikan kepada beliau...

"Perantauan anakmu tak sia-sia, Bu...."



Jumat, 06 Februari 2009

Kekuatan Itu Bernama Mimpi

Renungan kembali menghampiri diriku. Aku bisa saja bermimpi menjadi salah satu orang penting di negeri ini, tapi layakkah aku berangan-angan seperti itu padahal menjadi nomor satu di lingkunganku saja hampir tidak pernah?

Bangun, bangun! Dunia ini bukan pentas mimpi!

Itu egoku yang berkata. Bukan batinku! Aku bukan orang yang lemah seperti itu!

Kau bukan siapa-siapa! Lihat dirimu, apa yang pernah kau lakukan di sekitarmu? Karya apa yang telah kau hasilkan selama ini? Pernahkah kau membuat orang tuamu bangga? Pernahkah kau membuat orang-orang terpukau karena kehebatanmu? Pernahkah kau menjadi pemimpin yang sukses menjalankan amanah dari orang-orang yang mengharapkanmu?!!

Tidak pernah. Satupun.
Nah, kau yang menjawabnya sendiri. Tak ada lagi harapan. Selamanya kau hanya akan menjadi orang ke sekian yang tak penting. Kau akan selalu berada di belakang, tertutup oleh orang-orang yang senantiasa berbuat dan berkarya! Kau takkan bisa berada di depan mereka!
Aku rapuh. Kakiku seperti tak sanggup lagi menyangga badanku. Apakah benar aku tak mempunyai hak untuk menjadi seseorang yang berguna untuk bangsa ini, sesuatu yang menjadi impianku selama ini?
TIDAK!!!!
Jika aku menuruti "setan" kecil yang bersemayam di dalam hatiku, sungguh, alangkah bodohnya diriku ini!
Sekian lama aku berada dalam lingkaran pemikiran antara kepastian dan ketidakmungkinan. Batinku menjelajah semua teori yang mengandung probabilitas di antara kemustahilan. Dan aku sampai pada sebuah elemen parsial yang mewakili sebuah benda konkret yang bernama kesuksesan. Elemen itu senantiasa bermukim dalam setiap jiwa pemikiran manusia. Elemen itu selalu ada dalam batin seseorang. Bahkan elemen itu tak pernah henti menemani hidup dari semua orang. Hanya, tak semua orang mampu mengkonversikan elemen itu sebagai sebuah substansi yang dapat mengubah keseluruhan hidupnya. Kawan, akhirnya aku menyadari. Elemen itulah yang nantinya akan mengubah hidupku selamanya. Elemen itu benama mimpi.
Percayakah kau kawan, bahwa "benda kecil" seperti mimpi dapat melakukan sesuatu yang sangat besar?
Kawan, coba tanyakan apa yang menjadi kekuatan utama yang melandasi kesuksesan seseorang. Aku yakin, kekuatan utama yang pertama kali mereka himpun untuk meraih sukses mereka adalah mimpi dan harapan dari kesuksesan itu sendiri.
Orang frustasi sering berkata, "Kesuksesan itu sudah dari sononya. Jadi ngapain kita usaha?!"
Benarkah?
Aku ingin menanyakan satu hal. Jika ada orang yang dilahirkan dengan kondisi miskin, tuli, dan dicap idiot, bagaimana pandangan Anda mengenai orang tersebut? Jangankan menyebutnya sebagai manusia yang bermakna, untuk sekedar menganggapnya ada pun masih untung.

Tapi lihatlah apa yang Thomas Alva Edison lakukan. Berkat kemauan keras dan prinsip hidupnya yang mengatakan bahwa "bakat itu adalah 1% ilham ditambah 99% kerja keras”, ia menjadi penemu yang disegani bahkan hingga puluhan tahun setelah kematiannya.

James Watt juga bukan tidak pernah gagal. Pada saat itu, Watt sama sekali tidak pernah mengoperasikan mesin uap. Hanya saja, keinginannya untuk tetap berusaha untuk membuat satu model mesin membara dalam hatinya. Walaupun gagal, dia tetap melanjutkan percobaannya. Dia kemudian secara terpisah menemukan pentingnya energi panas yang ditimbulkan dan diserap oleh tiap-tiap obyek untuk mengerti lebih jauh tentang mesin. Akhirnya pada tahun 1765 dia berhasil membuat sebuah model mesin yang dapat bekerja dengan baik.

Di sekolah dasar, Orville pernah dikeluarkan dari sekolah. Namun mimpinya dengan Wilbur -yang kini kita kenal dengan Wright bersaudara- untuk membuat pesawat terbang telah mengantarnya menjadi seseorang yang berpengaruh dalam peradaban di dunia ini.





Ikal dan Arai pun tak pernah berhenti bermimpi untuk menjejakkan kakinya di Sorbonne University. Padahal, jika kita melihat seorang anak kecil yang bersekolah di SD yang lebih mirip kandang kambing, di mana sekolah tersebut terletak di desa yang bahkan tak terjangkau citra satelit untuk dimuat di peta (ini hanyalah sebuah analogi untuk mengibaratkan bagaimana desa tersebut begitu tak dianggap), apakah pandangan Anda? Kita semua tentu akan berkata, "Percuma saja sekolah kalau tempat sekolahnya kayak gitu". Nyatanya, apa hasilnya? Cita-cita mereka tercapai. Kekuatan mimpi menunjukkan keajaibannya kepada dua bocah Belitong itu. Mereka adalah sang pemimpi sejati.


Semua hasil karya mereka takkan pernah ada di muka bumi ini jika mereka tak memiliki mimpi untuk mewujudkannya. Dan aku tak akan pernah berhenti bermimpi. Bermimpi menjadi seseorang yang luar biasa. Bermimpi menjadi penulis novel yang namanya terdengar seantero Indonesia dan Asia Tenggara. Bermimpi menjadi seseorang yang berpengaruh penting dalam penanganan bencana di negeri ini. Atau bermimpi untuk bisa mewujudkan keinginan besarku, yaitu berkeliling Inggris untuk mengunjungi London, Manchester, dan Liverpool.

Lagi-lagi suara itu datang. Hei, Bung! Jangan terlalu banyak bermimpi! Lekas bangun!

Baiklah. Aku memang akan bangun dan mewujudkan semua mimpi-mimpiku.
Dan suara itu terdiam untuk selamanya.

Kamis, 05 Februari 2009

We Will Not Go Down

(Composed by Michael Heart)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Indonesiaku.... Aku Menangis....


Aku menatap layar televisi dengan pandangan hampa. Badanku terdiam, mulutku juga tertutup rapat. Tapi dalam hati aku merasakan sakit yang tak terperih. Batinku miris melihat kondisi bangsaku yang kian hari kian carut-marut. Sebegitu besarkah dosa yang dibuat negara yang sangat aku cintai ini, sehingga berbagai macam masalah dan bencana tak henti-hentinya melanda Indonesia?

Aku memang salah satu orang beruntung yang tak pernah merasakan tidak enaknya dilanda banjir. Tapi melihat beban dan penderitaan saudara-saudaraku di belahan permukaan Indonesia lain yang tempat tinggalnya dilanda banjir, aku sampai tak mampu menggambarkan bagaimana prihatinnya diriku. Bahkan seketika aku berkhayal, andaikan aku telah lulus kuliah dan menjadi geodet yang luar biasa, aku ingin menerapkan sistem drainase yang tidak memungkinkan terjadi banjir, atau mengadopsi sistem pengairan Belanda yang membuat negara itu aman walaupun secara geografis berada lebih rendah dari permukaan laut. Oh, seandainya aku mampu mewujudkannya....

Namun aku segera tersadar dan mendapati bahwa diriku hanyalah seorang mahasiswa semester satu yang belum tahu apa-apa. Mungkin terlalu jauh berangan-angan kalau diriku adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam penanganan bencana di negeri ini, tapi apa salahnya bermimpi selama mimpi itu adalah awal untuk meraih segalanya?
Itu baru banjir. Tanah longsor juga belum henti menunjukkan amukannya. Rumah-rumah yang terletak di tebing bantaran sungai terancam terjatuh lantaran tanah yang menyangga mereka ambruk karena dihajar hujan selama berhari-hari. Bayangkan, seandainya tempat tinggal kita yang mengalami nasib demikian, bagaimana perasaan kita? Tentunya kita hanya dapat menyalahkan alam, memaki-maki keadaan, atau mencala Yang Di Atas... Bayangkan, bayangkan kalau itu yang melanda kita....
Padahal, itu semua baru bencana "kecil". Coba ingat tragedi yang menimpa Aceh tanggal 26 Desember 2004. Kala itu, gelombang setinggi puluhan meter menghancurkan Aceh hingga berkilo-kilo dari tepi pantai. Tsunami yang ganas membinasakan semua yang ada di sana.
Masalahnya, bencana tsunami sangat mungkin terjadi lagi di Indonesia. Posisi yang tidak menguntungkan karena berada di antara tiga pertemuan lempeng tektonik -Eurasia, Pasifik, dan Indo Australia- membuat potensi gempa di Indonesia menjadi sangat besar. Tabrakan lempeng-lempeng itu sangat memungkinkan terjadinya tsunami di masa yang akan datang. Faktanya, pascatsunami Aceh, Pangandaran dan Cilacap mengalami bencana serupa. Tapi, tentunya kita berharap bencana mengerikan itu tak lagi memakan korban di Indonesia.

Masalah alam tak kunjung usai, masalah sosial seolah tak mau ketinggalan menampakkan beritanya di televisi. Kita boleh mengaku sebagai negara demokratis, tapi apakah demokrasi di negeri ini sudah diterapkan dengan benar atau hanya sebatas formalitas untuk membuat pemikiran rakyat semakin rancu antara "kebebasan" dengan "kebablasan"? Aku yakin ini akan menjadi tugas yang berat untuk pemerintah Indonesia, sekarang dan untuk ke depan.

Aku memang mahasiswa Teknik yang tak tahu apa-apa mengenai birokrasi negeri ini yang semakin lama semakin tak jelas arah tujuannya. Tapi paling tidak aku peduli dan ingin tahu akan semua keadaan di Indonesia, dan di masa depan aku ingin berperan dalam mewujudkan negeri yang makmur di tanah air Indonesia...

Tapi maafkan jika aku skeptis. Kasus terbaru di Medan, Sumatera Utara kemarin semakin membuatku ingin menangis melihat kondisi bangsaku. Bagaimana tidak, kasus pemimpin dibunuh rakyatnya sendiri masih terjadi di jaman sekarang ini? Dan alasan yang melandasi niat mereka sungguh tak dapat diterima -paling tidak olehku. Mereka "hanya" menuntut pemekaran wilayah Provinsi Tapanuli.

Sekarang aku ingin bertanya, apakah dengan alasan itu mereka layak mengorbankan nyawa seorang ketua DPRD???!!!!

Sekali lagi, aku hanya mahasiswa Teknik yang sebenarnya tak cukup pantas menyampaikan pendapatku mengenai politik. Kalaupun tulisanku ini dibaca oleh orang politik yang pro dengan niat massa -pembentukan Provinsi Tapanuli- aku pasti dicerca habis-habisan. Tapi kembali aku tegaskan, ini hanyalah wujud kepedulian dari seorang anak bangsa yang menginginkan kemakmuran di negerinya. Aku di sini berbicara bukan sebagai pengamat politik atau kaum intelektual. Aku hanya berbicara sebagai seorang rakyat biasa. Jadi maaf saja jika tulisanku ini tak mempunyai cukup kekuatan untuk diperdebatkan.

Aku juga mengerti benar, tidak mudah memimpin sebuah negara yang sangat luas di mana dalam setiap rezim di negara itu selalu saling mewariskan masalah yang kompleks untuk pemerintahan berikutnya. Tapi agaknya calon presiden terpilih yang akan mulai memimpin di tahun 2009 ini menyadari, jika Anda sudah berani terjun dalam Pemilu, Anda harus dapat mewujudkan SEMUA amanah yang rakyat embankan di pundak Anda!!! Bukan menunjukkan ambisi yang berlebihan untuk mendapat kursi pemimpin seperti yang terjadi dalam pemilihan gubernur Jawa Timur. Sungguh memalukan!!!
Sebagai rakyat aku hanya mengharapkan yang terbaik bagi negeriku. Dan aku berharap aku dapat melakukan sesuatu yang nyata untuk negeriku di masa mendatang. Karena aku berjuang mendapatkan pendidikan tertinggi salah satunya juga demi pengabdianku untuk bangsa ini....